Sidebar One

Pages

Jumat, 06 Juli 2018

Meracik Taktik 4-4-2 & Pembedahannya

by Noval Yhan  |  in Taktik at  04.00
Saya adalah seorang penyuka taktik dengan bentuk 4-2-3-1 dan 4-3-3. Namun sejak melihat Timnas Indonesia yang diasuh oleh Alfred Riedl pada Piala AFF 2016 kemarin dimana Riedl sukses membawa Indonesia tampil di final dengan formasi 4-4-2, sejak saat itu saya mulai tertarik ingin mengimplementasikan formasi ini dalam Footbal Manager. Namun setelah mencoba beberapa lama, saya belum juga menemukan taktik yang bagus. Malah saya mulai menemukan bahwa formasi atau bentuk 4-4-2 ini sangatlah lemah di tengah, terutama ketika melawan tim yang menggunakan formasi yang menumpuk pemain di tengah.

Sebuah artikel yang berjudul "Arsene Wenger's Invicibles" yang tautannya dapat anda lihat di sini, ditambah lagi dengan formasi 4-4-2 yang digunakan oleh Timnas Argentina kala melawan Nigeria di pertandingan akhir fase grup World Cup 2018 dimana taktik yang diterapkan ada kemiripan mulai membuat saya ingin mencoba lagi untuk menerapkan taktik ini. Taktik Brazil kala mengalahkan Mexico dan juga taktik Jepang melawan Belgia di partai perdelapan final WC2018 (lihat gol pertama Jepang atas Belgia), juga memiliki kemiripan taktik dengan taktik yang akan saya buat ini.

Di PC milik saya hanya terinstal 2 versi game Football Manager yakni FM15 dan FM17. Di FM17 saya hanya memiliki 1 save yang menggunakan FC Santos di liga Brazil. Sementara di FM15 saya memiliki beberapa save dimana salah satu save saya memainkan Timnas Indonesia dan sudah memasuki tahun 2020. Di sini saya lebih memilih menerapkannya bersama Timnas Indonesia di FM15. Alasannya kenapa FM15? Karena saya malas harus memulai game yang baru di FM17 sementara di FM15 Timnas Indonesia saya sementara berjuang untuk kualifikasi World Cup 2022. Tapi apakah taktik ini nantinya bisa diterapkan di FM versi manapun? Insya Allah bisa, jika anda bisa memahami filosofi taktik yang akan saya ulas di bawah ini.

Kerangka Berfikir

Gambar 1 - Kerangka Berfikir

Dari gambar di atas dapat saya jelaskan bahwa :
  • Tim akan saya bagi dalam 3 bagian, yakni tim bertahan, tim transisi dan tim menyerang. Tim bertahan terdiri dari 5 pemain (DCR/L, DR/L dan MCL). Tim transisi terdiri dari 4 pemain (MR/L, MCR, dan STCL). Sementara Tim menyerang terdiri atas 3 pemain (MR, STCR/L).
  • Memfokuskan serangan melalui sisi kanan sehubungan dengan laporan scout bahwa oposisi memiliki kelemahan di sisi kiri pertahanan dimana asist dari gol yang tercipta lebih banyak tercipta dari sisi ini.
  • Bermain dengan garis pertahanan normal
  • Pemain diberikan kebebasan dalam kreatifitas namun sedikit terbatas pada beberapa pemain tertentu.

Formasi
Gambar 2 - Formasi Tim

Jika anda sudah membaca artikel "Arsene Wenger's Invicibles" yang sudah saya sebutkan di atas, mungkin anda akan melihat ada sedikit perbedaan bentuk dan peran pemain. Benar, karena saya melakukan sedikit penyesuaian dengan pemahaman saya.
Pertama, tidak adanya role Wide Playmaker karena dalam tim saya hanya ada satu orang yang dapat memainkan peran ini, yakni Leroy Resodihardjo. Jika Leroy Resodihardjo saya mainkan di flank kendalanya adalah tidak adanya pemain back up dengan role yang sama jika pemain ini mengalami cedera begitu pula di gelandang tengah saya akan kekurangan pemain kreatif setelah Evan Dimas.
Kedua, posisi salah satu gelandang tengah yang saya mundurkan hingga ke pos DM adalah penyesuaian dengan taktik-taktik sebelumnya dimana saya lebih sering menggunakan formasi dengan 1 DM untuk lebih memberikan perlindungan kepada 2 CB.

Mental & Team Shape
Gambar 3 - Mentalitas & Bentuk Tim

Berhubung tim yang saya hadapi adalah salah satu tim terkuat di asia, maka saya memilih bermain dengan mental counter (meski bermain di markas sendiri). Dipertemuan kami sebelumnya dengan Timnas Jepang kami berhasil menahan imbang mereka 1-1 dengan mental counter. Gol penyama kedudukan dicetak oleh Ezra Walian di menit-menit akhir pertandingan setelah Jepang mulai kehilangan konsentrasi dan stamina pemain mulai menurun. Dari pengalaman inilah saya belajar dan mencoba cara yang sama untuk menggunakan mental counter guna menguras tenaga pemain lawan kemudian menghajar mereka saat mereka kehabisan tenaga.

Untuk team shape saya memilih bentuk Fluid. Pada taktik sebelumnya untuk Timnas Indonesia saya lebih banyak menggunakan bentuk Structured dan Flexible. Namun jika saya perhatikan kedua bentuk team shape tersebut sedikit bermasalah dalam transisi baik menyerang maupun bertahan. Ketika menangani tim besar baik di FM15 maupun FM17 saya menggunakan bentuk Very Fluid karena ingin mencoba menerapkan taktik Total Football. Untuk timnas saya tidak menggunakan bentuk Very Fluid karena saya anggap ini akan menjadi tindakan bunuh diri mengingat kreatifitas pemain Timnas yang berada dibawah rata-rata, hanya ada beberapa pemain saja yang memiliki kreatifitas rata-rata. 

Instruksi Tim
Gambar 4 - Instruksi Tim
Saya lebih memilih untuk memberikan instruksi tim yang cukup sederhana. Jika ditaktik sebelumnya saya menambahkan instruksi Retain possession dan Shorter passing, dalam taktik ini instruksi retain possession hanya saya gunakan dalam tweak taktik saat pertandingan berlangsung, terutama ketika tim memiliki kepemilikan dibawah 40%. Sementara untuk instruksi shorter passing tidak saya aktifkan dengan alasan saya telah memilih team shape Fluid dimana para pemain telah diberikan kebebasan dalam berkreasi. Mereka bisa menentukan sendiri jenis passing sesuai kondisi permainan yang ada.

Saya mengaktifkan instruksi Pass into space dengan tujuan melakukan serangan balik cepat dan memanfaatkan kecepatan beberapa pemain kunci terutama pemain sayap kanan dan stiker.

Instruksi Low crosses sebenarnya bukanlah instruksi default, saya hanya menyesuaikan dengan kondisi pemain yang ada. Dalam beberapa pertandingan yang kami lakoni, kami seringkali kalah dalam duel udara, sehingga memilih instruksi ini dirasa lebih tepat.

Seperti halnya instruksi low crosses, instruksi Exploit the right flank tidak merupakan intruksi default. Instruksi ini lebih disesuaikan kepada hasil laporan scout atau disesuaikan dengan kondisi taktik yang ada.

Instruksi Close down more dan Prevert short GK Distribution dimaksudkan untuk memberi tekanan kepada oposisi terutama dalam proses build up kiper. Detailnya akan dijelaskan pada Instruksi Oposisi.

Instruksi Be more disciplined yang dikombinasikan dengan team shape Fluid akan membatasi kebebasan kreatifitas pada pemain tertentu. Atau dengan kata lain, meski telah diberikan kreatifitas yang lebih kepada semua pemain, namun ada batasan yang harus ditaati oleh pemain terutama dalam melepaskan umpan beresiko.

Instruksi Pemain

Dalam instruksi pemain juga saya melakukannya dengan sangat sederhana. Hanya beberapa pemain tertentu saja yang diberikan instruksi khusus untuk mendukung taktik yang ada. Berikut instruksinya :
  • GK - Goal Keeper (defend) : Distribute quickly
Penjelasan : mendistribusikan bola dengan cepat dapat mendukung serangan balik yang cepat sebelum pemain oposisi kembali ke posisi semula.
  • DR - Full Back (support) : N/A
  • DCR - Limited Defender (defend) : N/A
  • DCL - Central Defend (defend) : N/A
  • DL - Full Back (support) : N/A
  • DM - Anchor Man (defend) : Close down less
Penjelasan : dengan instruksi ini diharapkan si pemain tidak terpancing untuk keluar dari posisinya (out positions) ketika melakukan pressing kepada pemain oposisi sehingga dapat mempengaruhi struktur/bentuk prtahanan tim. Pressing hanya akan dilakukan jika pemain oposisi berada di area pemain ini berada. Keluarnya pemain ini dari posisinya dapat mengurangi perlindungan pada Bek tengah.
  • MR - Winger (attack) : Close down more
Penjelasan : pemain ini merupakan pemain kunci dalam taktik. Pemberian instruksi close down more agar pemain ini ikut berperan dan memberikan tekanan kepada pemain lawan saat timnya kehilangan kepemilikan.
  • MCR - Central Midfield (support) : Shoot more often & More direct passes
Penjelasan : pemain ini sejatinya bertindak sebagai playmaker, namun pemberian role playmaker kepada pemain ini dikhawatirkan akan mengurangi fokus tim terhadap serangan. Instruksi shoot more often hanya bersifat khusus untuk pemain yang memiliki atribut pendukung. Sementara instruksi more direct passes dapat menjadikan pemain ini sebagai playmaker bayangan untuk dapat memindahkan bola dari satu sisi ke sisi lainnya atau memberikan umpan langsung ke depan yang dapat dikejar oleh pemain dengan tugas menyerang.

  • ML - Wide Midfielder (support) : N/A
  • AMCL - Attacking Playmaker (attack) : Close down more, Get futher forward, Move into channels, & Hold up ball
Penjelasan : pemain ini akan menjadi creator sekaligus penyerang bayangan. Saat tim kehilangan kepemilikan maka pemain ini diharapkan menjadi pressure utama untuk mengganggu oposisi dalam mengembangkan permainan mereka. Instruksi hold up ball dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada pemain lain untuk naik dan mengambil posisi menyerang guna menambah daya gedor.

  • STC - Complete Forward (support) : Close down more, Tackle harder, & Move into channels
Penjelasan : salah satu instruksi default dari seorang CF (support) adalah hold up ball yang berguna untuk menahan bola dan memberi kesempatan kepada beberapa pemain mengambil posisi menyerang. Pemain ini juga diharapkan menjadi pressure utama saat tim kehilangan kepemilikan dengan instruksi close down more. Move into channels berguna untuk memancing bek tengah oposisi untuk keluar dari posisi mereka sehingga memberi kesempatan kepada pemain lain untuk mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan.

Instruksi Oposisi

Seperti yang sudah saya janjikan dalam penjelasan tentang instruksi tim, maka saya akan memberikan penjelasan untuk instruksi oposisi yang berguna mendukung instruksi tim Close down more. Bagian ini sebenarnya hanya merupakan bagian tambahan saja, karean setiap personal memiliki settingan tersendiri pada instruksi ini. Instruksi ini telah saya sesuaikan berdasarkan pemahaman saya.

Default :
Gambar 5 - Instruksi Oposisi

Gambar di atas merupakan settingan default dari instruksi oposisi. Dari gambar di atas saya lebih memfokuskan pressing kepada pemain yang berada di tengah, ini berguna untuk memaksa oposisi bermain melalui area flank (pressing traps). Sementara untuk pemain oposisi yang berada di area flank diberikan instruksi tight marking yang berguna untuk memarking lawan sehingga ketika pemain tengah lawan mengarahkan bola kepada pemain ini, dengan segera pemain kita yang ada di posisi yang sama secepat mungkin menutup pergerakan lawan. Sementara untuk instruksi kepada striker oposisi lebih bersifat situasional yang penjelasannya dapat dilihat pada penjelasan instruksi oposisi saat pertandingan (in match).

Saat pertandingan (in match)
Instruksi oposisi saat pertandingan dapat mengikuti settingan default sebagaimana yang ada dalam gambar di atas. Namun pada beberapa kondisi tertentu beberapa instruksi perlu penyesuaian.

Sebagai contoh, ketika kita melawan tim yang menempatkan 2 pemain pada posisi DM (contohnya 4-2DM-3-1), maka instruksi close down more pada CB lawan dihilangkan untuk meminimalisir pemain tengah kita out positions karena akan terlalu naik melakukan pressure ke depan.

Demikian pula instruksi close down pada pemain oposisi yang berada di posisi AMC. Jika lawan menempatkan lebih dari 1 pemain pada posisi AMC, maka sebaiknya pemberian instruksi diberikan kepada pemain yang cenderung sebagai kreator ditambah dengan instruksi tight marking kepada pemain tersebut. Dan untuk menghindari CB kita terpancing untuk out positions, maka dapat ditambahkan instruksi pemain close down less kepada salah satu CB.

Sementara untuk instruksi tight marking pada striker dapat dikondisikan apabila oposisi hanya menggunakan striker tunggal yang juga dapat ditambahkan dengan instruksi cosing down always jika striker lawan memiliki peran sebagai kreator. Namun perlu diingat, tambahan ini hanya berlaku jika tim oposisi tidak menempatkan lebih dari 1 pemain pada posisi AMC. Apabila oposisi menggunakan lebih dari 1 striker, maka instruksi ini baiknya dihilangkan. Penambahan instruksi closing down always diberikan kepada salah satu striker oposisi yang memiliki peran sebagai kreator.

Analisis Taktik

Pada bagian ini saya akan membaginya dalam 2 bagian, yakni analisa taktik saat tim tanpa bola/kepemilikan dan saat tim dalam kepemilikan.

Tanpa bola/kepemilikan
Untuk penjelasan analisa taktik, saya akan mengambil contoh pertandingan Indonesia vs Japan dalam kualifikasi World Cup 2022.
Gambar 6 - Line Up Indonesia vs Japan
Berdasarkan laporan scout tim bahwa Japan memainkan formasi 4-4-2. Namun tidak disangka dalam match ini mereka menggunakan formasi 4-3-3 narrow yang saya anggap bahwa tim ini akan tampil menyerang dan menekan. Mentality counter yang saya pilih sepertinya sudah tepat mengingat tim oposisi cukup ngotot untuk menyerang. Penempatan seorang pemain di posisi DM juga saya rasa cukup tepat mengingat tim oposisi menempatkan 3 striker.

Bentuk tim ketika tanpa bola/kepemilikan ada 2 bentuk, pertama berbentuk pola 4-4-2 (4-1-3-2) dan yang kedua membentuk pola 4-5-1 (4-1-4-1) yang dapat kita lihat pada 2 gambar di bawah ini.
Gambar 7.1 - Bentuk tim tanpa bola (4-4-2)

Gambar 7.2 - Bentuk tim tanpa bola (4-5-1)
Pada gambar 7.1 tim membentuk pola 4-4-2 (4-1-3-2) ketika menghadapi tekanan oposisi dari tengah. ML bergerak masuk ke tengah untuk mendukung memberikan tekanan kepada pemain oposisi yang membawa bola. MR ikut bergerak masuk ke tengah membentuk formasi yang rapat yang memungkinkan oposisi mengalirkan bola ke area flank. Sementara itu pemain pada posisi DM mempertahankan posisinya lebih dalam guna meminimalisir area tengah yang dapat dieksploitasi oleh lawan.

Pada gambar 7.2 tim membentuk pola 4-5-1 (4-1-4-1) dimana pemain pada posisi AMC ikut turun memberikan pressure kepada pemain lawan yang memegang bola meninggalkan ST di depan untuk menunggu serangan balik.

Kondisi lain ketika tim tidak dalam kepemilikan yakni pressing pemain terhadap oposisi guna menerapkan pressing traps dapat digambarkan sebagai berikut
Gambar 8 - Bentuk Pressing Tim
Lingkaran berwarna merah adalah overload yang dilakukan pemain Indonesia untuk memberikan tekanan kepada pemain Japan. Panah berwarna biru muda adalah opsi umpan yang dimiliki oleh Higashi (8). Panah merah terputus adalah pressing pemain Indonesia terhadap pemain Japan. Dan panah biru terputus adalah opsi gerakan pemain Japan untuk mendapatkan ruang tepat sebagai opsi umpan dari pembawa bola.

Zamrun (11) bergerak masuk ke tengah untuk menutup opsi umpan Higashi ke depan dan membiarkan DL Japan terbuka untuk memaksa Higashi mengarahkan bola ke area flank kiri. Syaffarizal Agri (8) bergerak turun untuk mengawasi Y. Kakitani (10) dan K. Honda (7). Evan Dimas (5) memberikan pressure kepada pembawa bola sambil mengawasi kemungkinan bola dilepaskan kepada Y. kakitani (10). Sementara Ezra Walian (10) ikut turun untuk mencegah Higashi melakukan back pas kepada H. Terada (4) atau kepada K. Honda (7).

Analisa taktik dengan bola/kepemilikan
Gambar 9 - Bentuk Ketika Dalam Kepemilikan
Berdasarkan formasi yang saya bentuk, ada rencana pembentukan formasi berlian antara MCR-MR-ST-AMC yang kemudian didukung oleh 2 pemain diluar formasi berlian yang terdiri atas DR dan ML. DR diharapkan menjadi opsi umpan terdekat untuk mengexploitasi sisi kanan (area kotak merah), sementara ML dijadikan sebagai pemain yang dapat mengeksploitasi sisi underload (kotak kuning). Dalam situasi seperti dalam gambar 9, Ezra Walian (10) setelah menerima umpan dari Agri (8), melakukan La Pausa untuk memancing pressing lawan kemudian melepaskan umpan pendek kepada Zamrun (11) yang kemudian akan diteruskan kepada Rudi Nasrullah (2) yang siap mengeksploitasi sisi kanan. Sayangnya dalam situasi ini umpan yang dilakukan oleh Zamrun terlalu lambat dibandingkan pergerakan Nasrullah sehingga bola hanya ke luar lapangan.

Gambar 10.1 - Proses Gol Kedua Indonesia

Gambar 10.2 - Proses Gol Kedua Indonesia
Kedua gambar di atas merupakan sebuah proses serangan balik cepat timnas Indonesia yang mengubah skor 2-0 atas Japan.

Gambar 10.1 berawal dari kesalahan umpan yang dilakukan oleh bek tengah Japan Terada (4) kepada Higashi (8) yang langsung dipotong oleh Andik Vermansyah (15) yang masuk menggantikan Zamrun akibat cedera, bola langsung dialirkan Andik kepada Ezra Walian (10) di tengah. Ezra mengontrol bola sambil melakukan La Pausa untuk memancing pressing lawan sambil menunggu beberapa pemain mengambil posisi menyerang. Pada kondisi ini ada 3 pemain yang siap mengambil posisi menyerang yakni Andik (15), Agri (8), dan Evan Dimas (5).

Gambar 10.2 Ezra Walian mengalirkan bola kepada Agri (8) di tengah. Namun baru saja mengontrol bola, Agri sudah langsung ditekel oleh Yuki Shima (3) dan bola mengarah ke depan. Andik yang juga ikut bergerak naik bersama Agri langsung mengambil bola liar tersebut dan mencetak gol kemenangan setelah sebelumnya berhasil mengecoh Kiper Japan Yoshikatu Kamata.

Untuk lebih jelasnya seperti apa proses golnya, silahkan disimak video berikut


Hasil Akhir

Gambar 11 - Hasil Akhir Indonesia vs Japan

Kami berhasil mengalahkan Japan dan memantapkan posisi kami di puncak klasemen setelah sebelumnya berhasil mengalahkan Australia 2-0 (Home) dan UAE 3-1 (Away).

Taktik yang sama pula saya terapkan ketika menjamu salah satu tim kuat Asia, yakni Iran. Namun dalam match ini saya melakukan beberapa perubahan, yakni mentality saya ubah ke control (untuk mencoba melihat tim saat bermain menekan). DL saya berikan peran Full Back (defend). Sementara ML saya lakukan tweak menjelang babak kedua menjadi Winger (support) karena dalam beberapa momen saya melihat posisinya sangat jarang mengisi area tengah ketika tim sedang mengeksploitasi sisi kanan. Begitu pula pergerakannya lebih cenderung membawa bola ke area flank ketimbang melakukan cut inside. Alhasil cukup membuat formasi lawan makin terbuka. Dan dalam match tersebut kami berhasil mempecundangi Iran dengan skor 3-1.
Gambar 12 - Line Up Indonesia vs Iran

Gambar 13 - Hasil Akhir Indonesia vs Iran

Kesimpulan

Taktik ini sudah saya coba dalam 3 match. 2 match bersama Timnas Indonesia dan 1 Match lagi saya buat bersama Bayern Muenchen ketika menghadapi Borusia Dortmund yang berakhir dengan kekalahan 2-0. Berdasarkan analisa saya, kekalahan dari Dortmund disebabkan oleh kesalahan saya dalam memberikan instruksi oposisi dan kurang mengamati pemain oposisi yang bisa memberikan ancaman. Saya lebih terfokus untuk memperhatikan pergerakan pemain saya dalam mempraktekkan taktik ini. Jadi, taktik ini harus didukung oleh pemberian instruksi oposisi yang tepat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.

Taktik ini belum sempat saya coba di FM17 dikarenakan masalah waktu dan dalam save saya di FM17 bersama FC Santos saya nilai kurang cocok saya terapkan di tim ini. Dikhawatirkan juga para pemain Santos akan semakin bingung dengan perubahan filosofi dimana bersama tim Santos saya lebih banyak mengembangkan formasi 3 bek dengan filosofi taktik yang berbeda jauh dengan yang saya terapkan bersama Timnas Indonesia.

Saya mohon maaf jika saya tidak memberikan link download atas taktik ini. Karena saya yakin para pembaca bisa lebih mengembangkan taktik ini lebih baik lagi. Dan juga pembuatan artikel ini hanya dimaksudkan untuk membuka diskusi, siapa tahu di antara para pembaca dapat memberikan masukan.

Dan saya ucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca/pengunjung blog ini yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan saya ini.

Rabu, 09 Mei 2018

ANALISA PERTANDINGAN BARCELONA 2-2 REAL MADRID (7/5/2018)

by Noval Yhan  |  in Taktik at  07.52

Sergio Ramos memeluk erat Andres Iniesta di lorong ruang ganti sesaat sebelum memasuki lapangan. Mungkin ini akan menjadi pertemuan terakhir mereka dalam laga El-Clasico karena musim depan Iniesta tidak akan lagi memperkuat Barcelona.

Formasi
Barcelona memainkan formasi dasar 4-4-2 yang sering bertransformasi menjadi 4-3-3 atau 4-3-1-2 saat menyerang. Sementara Real Madrid memainkan formasi dasar 4-3-3 yang bertransformasi menjadi 3-4-3  atau 3-1-4-2 / 3-1-3-3 saat menyerang.
Gambar 1 - Line-Up Kedua Tim
Line-Up
Ernesto Valverde memainkan Sergio Roberto dan Jordi Alba sebagai bek kanan dan kiri mengapit 2 sentral bek Gerard Pique dan Samuel Umtiti. Baik Sergio Roberto maupun Jordi Alba sama-sama memiliki tambahan peran dan tugas membantu serangan dari area flank. Di barisan tengah dari kanan luar ditempati oleh Coutinho, kanan dalam diisi oleh Ivan Rakitic, kiri dalam ditempati oleh Busquet, sementara di kiri luar diisi oleh Andres Iniesta. Messi dan Suarez bersanding di depan, namun Lionel Messi lebih berposisi sedikit lebih dalam ketimbang Luis Suarez.

Di kubu Madrid Zidane memainkan Nacho dan Marcelo di full bek kanan dan kiri mengapit Varane dan Ramos sebagai sentral bek. Marcelo lebih diposisikan maju ke depan ketimbang Nacho sehingga Madrid nampak seperti bermain dengan 3 bek. Casemiro diturunkan sebagai holding midfielder diapit oleh Luka Modric dan Toni Kroos. Di depan Zidane menurunkan trio BBC Gareth Bale di kanan, Benzema di tengah, dan Cristiano Ronaldo di kiri.

Strategi
Babak Pertama
Barcelona dengan ciri khas mereka bermain dengan possession dan menekan menggunakan pressing blok tinggi sementara Madrid bermain dengan strategi counter attack dengan pressing blok yang juga cukup tinggi dan keduanya menerapkan zonal marking man oriented.

Dalam fase build-up Barcelona Pique dan Umtiti bergerak ke sisi luar sementara Rakitic dan Busquet sering turun sebagai akses vertikal. Namun build-up Barca seringkali tidak berjalan mulus karena Ronaldo dan Bale sama-sama berorientasi kepada Pique dan Umtiti. Sementara Benzema berorientasi kepada Busquet. Dalam proses build-up Madrid, Ramos selalu bergerak ke sisi kiri luar yang mendorong Marcelo lebih maju. Casemiro lebih cenderung statis dan jarang berperan aktif dalam proses build-up. Justru Kroos yang nampak selalu turun ke half space kiri sebagai akses vertikal.

Baik Barcelona maupun Madrid sama-sama mengeksploitasi zona yang sama. Barcelona mengeksploitasi sisi kiri pertahanan Madrid sementara Madrid mengeksploitasi sisi kanan pertahanan Barcelona.

Messi bermain sebagai false 9 membuka ruang bagi Coutinho dan Roberto mengisi posisi di area flank kanan, namun Coutinho sendiri lebih cenderung bergerak ke area dalam sebagai pemain nomor 10. Benzema dan Ronaldo yang menempati posisi #9 dan #11 sering bertukar posisi, sementara Gareth Bale yang mengisi pos #7 seringkali harus turun hingga ke pos #2 dalam fase bertahan menggantikan Nacho yang bergerak masuk ke area central untuk mengcover Varane.

Di menit ke-3 babak pertama baru berjalan Barcelona mendapatkan peluang melalui sepakan Luis Suarez yang masih mampu diblokir oleh Raphael Varane. Lionel Messi dengan cermat membuka akses diagonal di zona 5 Madrid yang tidak terjaga. Marcelo yang berdiri di half space kiri cukup jauh untuk melakukan pressing kepada Messi, sehingga memaksa Ramos untuk bergerak naik melakukan pressing. Dengan cepat pemain bernomor punggung 10 tersebut melepaskan umpan terobosan ke ruang horizontal antara Varane dan Marcelo.

Gambar 2 - Messi yang membuka akses diagonal dari Rakitic

Gambar 3 - Messi melepaskan umpan terobosan melalui celah horizontal antara Varane & Marcelo
Posisi Marcelo di sisi kiri yang lebih naik hingga zona 9 dan 12 ketimbang Nacho di sisi kanan mengakibatkan zona 3 dan 6 Los Blancos terlihat kosong dan kerap kali dieksploitasi oleh Coutinho dan Roberto. Seperti halnya dalam proses gol pertama Barcelona, ketika Madrid berupaya melakukan overload di sisi kanan pertahanan Barcelona dimana Marcelo naik jauh hingga zona 12. Coutinho yang berhasil melepaskan umpan kepada Suarez yang membuka akses diagonal di antara Casemiro dan Ramos, dengan cepat pemain Uruguay tersebut mengalirkan bola ke zona 9 yang kemudian di kejar oleh Sergio Roberto. Varane dengan cepat mencoba menghadang Sergio Roberto, sementara Ramos bergerak turun mengisi posisi yang ditinggalkan Varane. Messi yang bergerak masuk ke dalam kotak penalti memancing pressing Nacho bergerak maju sehingga membuat Suarez bebas menjebloskan bola ke gawang Keylor Navas tanpa penjagaan setelah menerima umpan crossing dari Sergio Roberto.

Gambar 4 - Proses terjadinya gol pertama Barcelona
Gambar 5 - Proses terjadinya gol Barcelona
Setelah tertinggal 1-0 dari Barcelona, Madrid mencoba menaikkan tempo dan memperketat pressing. Madrid berusaha memenangkan overload di tengah dan mencoba mematikan build-up Barcelona.
Gambar 6 - Overload Madrid terhadap Barcelona
Iniesta sering menjadi sasaran marking dan pressing yang dilakukan oleh Luka Modric di area tengah. Hal ini membuat progres bola Barcelona lebih banyak mengalir dari Rakitic.

Tidak butuh lama bagi Madrid untuk membalas gol Barca, adalah C. Ronaldo yang berhasil membuat skor imbang 1-1 melalui sebuah skema serangan balik cepat.
Gambar 7 - Serangan balik Madrid
Gambar 8 - Proses terjadinya gol pertama Madrid
Setelah berhasil mematahkan serangan Barcelona yang dilakukan oleh Coutinho, Ramos menyapu bola ke Gareth Bale. Pemain Eks Totenham ini melakukan back pass kepada Casemiro. Rakitic dengan cepat melakukan pressing kepada Casemiro namun bola berhasil digulirkan kepada Kroos di tengah. Pressing Busquet yang terlambat terhadap Kross menyebabkan pemain bernomor punggung 5 itu berhasil dilewati oleh Eks punggawa Bayern Muenchen tersebut. Setelah mendrible bola dengan cepat hingga zona 12, bola digulirkan ke sisi kiri kepada Ronaldo, sementara Kroos bergerak melalui punggung Ronaldo yang sudah memasuki kotak penalti Barcelona. Sementara itu Benzema mengambil posisi 1 vs 1 di sisi kanan dengan Samuel Umtiti. Dua hal yang perlu saya sorot dalam proses terjadinya gol pertama Madrid ini adalah kegagalan Busquet melakukan pressing kepada Kroos serta kejelian Ronaldo yang memanfaatkan body shape Pique menjadi faktor utama dalam proses gol penyeimbang ini. Bola yang telah bergulir kepada Kroos di sisi kiri membuat body shape Pique membelakangi Ronaldo. Setelah bola disilangkan ke Benzema, dengan cepat Ronaldo mengakses celah horizontal antara Samuel Umtiti dan Pique sebelum pemain bernomor punggung 3 tersebut menyadari pergerakan Ronaldo.
Gambar 9 - Proses gol pertama Madrid

Gambar 10 - Cristiano Ronaldo memanfaatkan body shape Pique yang membelakanginya
Ronaldo memanfaatkan body shape Pique yang membelakanginya ketika bola masih berada di kaki Kroos. Dan ketika bola telah melewati kepalanya, body shape Pique yang mengikuti arah bola secara perlahan mulai menyadari keberadaan Ronaldo di belakangnya. Namun kecepatan pergerakan Ronaldo yang telah mendahuluinya, membuatnya terlambat untuk menghentikan Eks pemain Manchester United itu untuk mencetak gol hasil umpan dari Benzema.
Gambar 11 - Pique yang terlambat menyadari kadiran Ronaldo dari belakangnya


Babak Kedua
Gambar 12 - Line-up babak kedua

Akibat kartu merah yang diterima oleh Sergio Robert dipenghujung babak pertama karena meninju Marcelo, pada babak kedua Ernesto Valverde menarik keluar Philippe Coutinho dan memasukkan Nelson Semedo untuk mengisi posisi full bek kanan. Barcelona pun harus bermain dengan 10 orang menggunakan formasi 4-3-2 atau 4-3-1-1 (karena Messi lebih banyak bermain di pos #10). Tidak ada perubahan peran maupun tugas pada kubu Barcelona, yang berubah adalah mentalitas yang bermain mengandalkan counter attack tapi tetap mengutamakan possession dan build up dari bawah.

Di kubu Madrid Cristiano Ronaldo ditarik keluar dan diganti oleh Marco Asensio. Madrid masih bermain dengan bentuk yang sama seperti halnya di babak pertama. Namun kali ini mereka tampil dengan lebih menekan. Nacho yang di babak pertama bermain bertahan, kini lebih didorong ke depan seperti halnya Marcelo. Benzema lebih bermain sedikit dalam hingga pos #8, meninggalkan Asensio sendiri di depan menunggu waktu yang tepat untuk menyerang balik. Gareth Bale yang di babak pertama sering terlihat turun hingga ke pos #2, kali ini nampak hanya turun sampai ke pos #10. Defensive line Madrid masih tetap sama seperti halnya dibabak pertama, yakni menggunakan high defensive line.

Enam menit berjalannya babak kedua, stadion Camp Nou bergemuruh setelah Lionel Messi membawa Barcelona unggul 2-1 melalui skema serangan balik. Setelah tembakan Asensio mampu di amankan oleh Andre Ter Stegen, mantan kiper Monchengladbach tersebut langsung mengarahkan bola kepada Iniesta. Dengan satu sentuhan dan dengan posisi badan yang membelakangi Suarez, Iniesta mengoperkan bola ke belakang yang langsung disambut oleh Suarez. Eks Liverpool tersebut pun langsung mendrible bola dan mencoba untuk melewati Varane. Meski sebelumnya terlihat bahwa Luis Suarez melanggar Varane yang mencoba untuk menghalanginya, namun wasit Alejandro Hernandez yang memimpin laga El Clasico tersebut tidak menilainya sebagai sebuah pelanggaran dan tetap melanjutkan permainan. Melihat posisi Messi yang tidak terjaga karena Ramos turun untuk melakukan pressing kepada Suarez, pemain bernomor punggung 9 itu langsung mengoper bola kepada Messi. Berhasil mengecoh Ramos dan Casemiro, Messi langsung mengarahkan bola ke tiang dekat gawang yang dijaga oleh Keylor Navas.
Gambar 13 - Proses gol kedua Barcelona


Memasuki menit ke 57 Iniesta ditarik keluar digantikan Paulinho Bezerra. Masuknya Paulinho membuat Barcelona mulai mengontrol permainan, para pemain Barca terlihat lebih tenang dalam mengola bola meski kalah jumlah pemain.

Real Madrid makin berkonsentrasi untuk menggagalkan proses build-up Barcelona. Toni Kroos naik lebih tinggi untuk menutup akses umpan dari Ter Stegen ke Rakitic sementara Benzema lebih berkonsentrasi untuk menutup akses ke Busquet. Untuk mengatasinya, Paulinho dan Semedo yang berperan untuk mencari ruang guna tetap menjaga progress bola.

Jika sebelumnya di babak pertama Benzema dan Ronaldo saling bertukar posisi untuk mengacaukan konsentrasi pemain belakang Barcelona, di babak kedua ini Benzema lebih banyak bertukar posisi dengan Gareth Bale di sisi kanan.

Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan unggul jumlah pemain, Real Madrid memanfaatkan lebar lapangan dan memfokuskan serangan melalui flank. Untuk lebih mengefektifkan serangan, Madrid menarik keluar Nacho Fernandez di menit ke-67 dan memasukkan Lucas Vazquez yang memiliki naluri menyerang.

Masuknya Vazquez mulai membuat Alba lebih berkonsentrasi bertahan ketimbang memberikan support. Messi dan Suarez lebih sering berganti peran untuk mengisi pos #10 atau #8. Hal ini dilakukan untuk mengacaukan konsentrasi pemain belakang Madrid. Varane pun terpancing untuk naik lebih tinggi keluar dari posnya melakukan press terhadap Suarez yang membuat keadaan 1 vs 1 antara Messi dengan Ramos. Sehingga dimenit ke 70 Messi hampir saja menggetarkan jala gawang Navas andai sepakan Messi tidak berhasil ditepisnya.

Real Madrid mulai mencoba opsi untuk melakukan overload di tengah guna membongkar pertahanan Barcelona. Marcelo dan Vazquez mengambil posisi lebih lebar di sisi lapangan untuk mengacaukan konsentrasi dua full bek Barca. Cara inipun berhasil dan berbuah gol yang dicetak oleh Bale. Setelah memancing pressing ketiga pemain tengah Barcelona (Rakitic, Paulinho, dan Busquet) yang tidak dibarengi dengan naiknya pemain belakang Barcelona, Asensio memanfaatkan ruang vertikal di antara pemain belakang dan pemain tengah dengan melepaskan umpan ke Gareth Bale yang sudah masuk ke zona 5. Body shape Asensio ketika mengoper bola kepada Bale juga memberikan pengaruh positif dalam proses gol tersebut, seakan-akan Asensio mengoper bola kepada Benzema sehingga menarik pressing Pique untuk menutup akses ke Benzema. Benzema mencoba berlari ke depan untuk menarik konsentrasi Umtiti sehingga membuka ruang horizontal yang cukup besar antara Umtiti dan Alba. Bale pun tak menyia-nyiakan kesempatan dengan melepaskan sebuah tembakan terarah sebelum dihalangi oleh Alba yang mengarah ke sisi kanan atas gawang yang tak mampu dijangkau oleh Andre Ter Stegen.

Barcelona mencoba bangkit kembali, Alba dan Semedo mulai terlihat menjalankan peran untuk membantu serangan. Gerard Pique pun terkadang ikut naik, adalah Busquet yang mengisi pos yang ditinggalkan Pique ketika bola berhasil direbut pemain Madrid. Dalam fase bertahan Barcelona mulai meminimalisir jarak antara barisan belakang dan barisan tengah yang membuat Madrid memfokuskan serangan melalui sayap.

Kesimpulan
Kegagalan Busquet melakukan pressing terhadap Toni Kroos menjadi salah satu penyebab terjadinya gol balasan Madrid di babak pertama. Begitu pula kejelian Ronaldo yang memanfaatkan body shape Pique yang tidak sempurna memarkingnya menjadi penyebab kedua atas gol balasan tersebut.

Sergio Roberto mungkin harus lebih bisa menahan emosinya sehingga tidak akan merugikan timnya. Tindakannya yang memukul wajah Marcelo memaksa wasit utama Alejandro Hernandez menghadiahinya kartu merah. Dalam pertandingan yang penting seperti ini dibutuhkan konsentrasi penuh serta kematangan emosi untuk tidak terpancing dengan profokasi tim lawan, apalagi untuk pemain sekelas Roberto.

Meski bermain dengan 10 orang di babak kedua, Barcelona tetap mampu bermain diluar tekanan. Perubahan strategi mengandalkan serangan balik cukup membuat Madrid tidak banyak mendominasi pertandingan meski sudah unggul jumlah pemain.

Satu hal yang membuat saya tertarik untuk menonton dan mengulas pertandingan ini adalah, strategi Madrid yang mengandalkan serangan balik cepat. Setelah berhasil mematahkan serangan Barcelona kedua midfielder Madrid yakni Kroos dan Modric langsung berkonsentrasi cepat untuk ikut terlibat dalam fase transisi menyerang.

Kamis, 22 September 2016

Belajar Dari Kesalahan Untuk Ciptakan Taktik Yang Jitu

by Noval Yhan  |  in Taktik at  09.06
Sebelum agan melanjutkan membaca cerita saya ini, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa segala tindakan/keputusan yang saya ambil dalam tulisan ini adalah berdasarkan pemahaman saya sendiri. Tindakan/keputusan ini tidak mutlak untuk anda jadikan sebagai panduan tetap, namum bisa anda jadikan sebagai panduan sementara atau tambahan pengetahuan saja.


Ok, guys...kali ini saya akan sedikit berbagi taktik di FM15. Namun untuk kali ini saya akan sedikit mengulasnya dalam bentuk analisa taktik. Atau lebih tepatnya lagi, apa yang akan saya bagikan ini adalah tentang pola pikir saya dalam meramu sebuah taktik. Jadi, yang saya harapkan nantinya adalah, setelah anda membaca postingan saya kali ini anda akan memiliki inspirasi baru dan memiliki atau membentuk pola pikir sendiri.

Untuk postingan kali ini saya membahas taktik yang hampir sama dengan taktik yang saya pakai bersama Barcelona di postingan saya yang sebelumnya. Tapi untuk taktik yang satu ini sedikit berbeda, karena lebih spesifik lagi strateginya. Dan klub yang saya asuh kali ini adalah Arsenal. Lho, koq Arsenal? Kan kemarin waktu posting pakainya Barcelona. Gini ceritanya gan, setelah saya berhasil menemukan taktik jitu sebagaimana yang saya ceritakan dalam postingan saya terdahulu (bisa dibaca di sinibermain di La Liga (Liga Spanyol) mulai terlihat sangat mudah. Bahkan pertemuan dengan Real Madrid kembali dalam pertandingan di La Liga yang bertajuk El Classico ke-3 di musim ke-3, Real Madrid saya paksa menyerah 5-0 tanpa perlawanan yang berarti. Setelah pertandingan itupun, belum ada satupun tim yang mampu menghentikan laju Barcelona. Bahkan dalam 7 pertandingan terakhir gawang Barcelona tak satupun yang mampu menembusnya. Inilah yang kemudian membuat saya mulai bosan dan akhirnya memilih untuk membuat sebuah save-an baru bersama Arsenal.

Lalu kenapa Arsenal menjadi tim yang harus saya pilih? Selama menangani Barcelona, ada 2 pemain yang menjadi pemain kunci saya selama menangani klub Catalan tersebut. Pertama, Sergio Busquet, pemain yang satu ini sangatlah sulit mencari pemain yang cara bermainnya sama seperti dia. Memiliki kesadaran ruang yang sangat tinggi dan memiliki mental yang sangat kuat. Kedua, adalah Lionel Messi, seorang penyerang bertipe playmaker memiliki skill yang sangat super. Mencari tipe pemain seperti mereka inilah yang cukup sulit. Namun di Arsenal saya melihat ada 2 pemain yang memiliki karakter bermain hampir mirip dengan Busquet dan Messi. Mikel Arteta merupakan pemain yang hampir mirip dengan karakter Busquet, namun dalam hal jika pemain ini saya plot ke role Regista-Support atau Deep Lying Playmaker-defend di posisi defender midfield (DM). Sementara untuk karakter Messi saya memilih Mesut Ozil yang memiliki karakter yang mirip dari segi peran sebagai playmaker (bukan sebagai tipe penyerang). Namun yang masih kurang dari Arsenal ini adalah penjaga gawang yang tidak memiliki tipe Sweeper Keeper (SK) serta tidak adanya striker yang dapat diberikan tugas sebagai #9 (Flase 9) yang menjadi kurang maksimalnya saya untuk mewujudkan filosofi Juego de Posicion (JDP) di Arsenal. Namun semua itu membutuhkan waktu dan proses. Untuk mewujudkan karakter Busquet dan Lionel Messi pada diri Arteta dan Ozil pun masih membutuhkan waktu.

Ketika diawal-awal memilih formasi dasar yang tepat yang harus disesuaikan dengan skuad yang ada, saya masih sedikit bingung. Namun pada akhirnya saya memilih formasi 4-1-2-2-1 (4-3-3 DM Wide) sebagai formasi dasar Arsenal untuk musim pertama ini. Alasannya adalah, saya ingin mencoba karakter Mikel Arteta yang saya anggap cukup bisa memerankan karakter Busquet seperti halnya yang saya mainkan di Barcelona. Begitu pula dengan Ozil, saya ingin membuktikan bahwa dia pantas untuk disamakan dengan Lionel Messi, namun jika dinilai sebagai seorang playmaker.

Memainkan pertandingan pra musim, semuanya terlihat lancar, meski untuk peran False 9 masih kurang optimal baik itu diperankan kepada Oliver Giroud maupun Danny Welbeck. Namun saya sudah cukup puas dengan kinerja para pemain yang semakin menunjukkan perubahan yang cukup besar.

Liga Inggris (Premiere League) pun akan segera dimulai yang diawali dengan pertandingan pembuka antara Manchester City vs Arsenal dalam  tajuk English Comunity Shield. Sebelum pertandingan, seperti biasa, opposition analyst akan menyajikan data mengenai calon lawan yang akan saya hadapi, serta memberikan saran untuk menetapkan fokus latihan lebih ke posisi bertahan. Namun, satu hal yang membuat saya berani mengambil sebuah keputusan menetapkan fokus latihan untuk posisi menyerang adalah formasi yang digunakan oleh Manchester City dalam beberapa pertandingan terakhir adalah menggunakan formasi 4-4-2 klasik. Sebuah blunder saya lakukan dalam membuat taktik untuk melawan City dalam pertandingan ini. Sebuah taktik yang dari dulu ingin saya wujudkan, yakni taktik 4-4-2 Diamond Narrow yang pernah dipertunjukkan oleh Carlo Anchelotti sewaktu masih menangani AC Milan dahulu, membuat saya penasaran ingin mewujudkannya bersama Arsenal. Kebetulan juga Arsenal memiliki skuad yang mirip dengan skuad yang pernah dimiliki oleh Don Carlo di AC Milan. Sehingga itulah saya memilih menyusun formasi dalam bentuk 4-4-2 Diamond Narrow. Kenapa saya memilih formasi ini untuk melawan formasi Manchester City yang dilaporkan akan menggunakan 4-4-2 klasik, adalah keberadaan pemain pada posisi AMC yang juga merupakan ujung terdepan dari formasi berlian adalah alasan utama saya untuk memilih formasi ini. Saya berharap pemain pada posisi AMC ini nantinya yang akan menjadi pemain kunci untuk mengobrak-abrik pertahan The Cityzen di barisan tengah. Namun siapa sangka, keteledoran saya dalam menentukan taktik ini menjadi blunder pertama bagi saya musim ini. Blunder yang saya maksud adalah formasi 4-4-2 diamond narrow ini belum pernah saya coba sebelumnya dalam pertandingan pra musim, karena dalam pertandingan pra musim kemarin saya hanya menggunakan 1 formasi saja yakni 4-1-2-2-1. Meski dengan setingan Team Instructions yang sama, tetap saja ini berpengaruh pada pemahaman para pemain untuk beradaptasi dengan formasi yang baru. Dan dalam laga ini, saya kalah dengan skor 3-2.

Sedikit saya ceritakan mengenai laga ini yang berhasil saya analisa setelah pertandingan berakhir. The Cityzen yang awalnya saya pikir akan menggunakan formasi 4-4-2 klasik, ternyata menggunakan formasi 4-4-1-1 dengan Aguero sebagai striker tunggal berperan sebagai Trequartista berada di depan Samir Nasri di posisi AMC sebagai Attacking Midfielder-support, yang dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.

Preview Line Ups Manchester City vs Arsenal

Keberadaan Mikel Arteta di posisi DM yang waktu itu saya berikan peran sebagai DLP-defend, membuat saya cukup aman untuk mengganggu peran Samir Nasri. Dimenit-menit awal babak pertama kami unggul lebih dahulu dari sebuah skema sepak pojok. Namun setelah gol pertama tersebut, permainan Manchester City mulai sangat sulit untuk ditebak. Pergerakan Aguero dan Samir Nasri membuat Mikel Arteta dan kedua CB Arsenal makin kebingungan untuk menentukan siapa yang harusnya pendapatkan penjagaan ketat. Pergerakan keduanya memaksa pemain belakang Asenal terkecoh untuk melakukan pressing ketat kepada Sergio Aguero, sehingga dengan mudahnya Samir Nasri bergerak untuk menyarangkan 2 gol ke gawang Arsenal. Bahkan gol Yaya Toure pun tak luput dari peran kedua pemain ini yang berhasil memancing para pemain belakang untuk keluar dari pertahanan mereka.

Dibabak kedua saya benar-benar memutar otak untuk mengimbangi taktik Manchester City yang cukup membuat saya bingung ini. Melihat pergerakan Samir Nasri yang saya anggap sebagai otak dari permainan ini membuat saya melakukan pertukaran posisi antara Mikel Arteta (DM) dengan Flamini (MCL). Flamini saya berikan role DM-defend dengan fokus penjagaan kepada Samir Nasri, sementara Mikel Arteta saya berikan peran DLP-support di posisi MCL. Alhasil, cara ini berhasil meredam serangan Manchester City. Samir Nasri tidak memperoleh sedikitpun ruang gerak karena selalu ditempel ketat oleh Flamini. Sementara Sergio Aguero mulai mati kutu berada di depan karena kurang mendapatkan suplai bola. Namun sangat disayangkan, Arsenal hingga akhir babak kedua hanya mampu menyarangkan 1 gol tambahan saja.

Dan dipertandingan pertama di kancah Premiere League, Arsenal dijamu oleh Leichester City. Tampil percaya diri karena The Fox merupakan salah satu lawan yang terbilang cukup mudah, membuat saya menggunakan formasi yang sama (4-4-2 diamond narrow) melawan formasi 4-5-1 The Fox. Dan ini menjadi blunder kedua saya musim ini. Arsenal pun dikalahkan oleh The Fox dengan skor 2-1.

Berangkat dari kekalahan beruntun ini membuat saya berusaha bangkit dan tidak ingin jatuh di lubang yang sama lagi. Setelah berhasil memenangkan leg pertama kualifikasi liga champion melawan Standard Liege (3-0) saya mulai melakukan analisa taktik Arsenal dalam 2 pertandingan sebelumnya melawan The Cityzen dan The Fox. Dua hal yang berhasil saya gali dimana ini merupakan salah satu penyebab bobroknya strategi yang saya rancang adalah pergerakan pemain di lini tengah. Terlalu aktif dalam menyerang serta tidak ikut berperannya kedua striker dalam fase bertahan membuat lini tengah Arsenal menciptakan area terbuka untuk dieksploitasi. Ditambah lagi dengan pemain pada posisi WBR dan WBL yang saya ikut perintahkan untuk lebih banyak terlibat dalam membantu serangan (instruksi get further forward pada instruksi player dan instruksi look for overlap pada intruksi tim) malah semakin membuat pertahanan Arsenal rentan oleh serangan balik cepat.

Dari sinilah akhirnya saya teringat lagi akan taktik yang pernah saya buat di Barcelona ketika menghajar Real Madrid. Strategi yang saya buat tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya terapkan di Barcelona. Agar kalian lebih mudah memahami apa yang ingin saya terapkan kali ini, baiknya saya memberitahu terlebih dahulu bagaimana pola pikir saya, atau dengan kata lain apa yang nantinya saya harapkan dari taktik yang akan saya buat.

Seperti halnya yang saya buat di Barcelona ketika akan menghadapi Real Madrid yang jelas-jelas menurut saya akan menggunakan strategi serangan balik cepat, saya memutuskan membuat kombinasi role untuk pemain tengah yang tidak terlalu agresif untuk menyerang.

Pola pikir dan tujuan dari strategi yang akan saya buat adalah seperti ini :

Trio gelandang saya (DM, MCR, dan MCL) akan saya buat tidak terlalu agresif dalam menyerang. Memposisikan mereka sedikit lebih dalam ditambah dengan memberikan instruksi shoot more often pada pemain di posisi MCR tentunya akan memancing pemain lawan untuk melakukan pressing guna menutup baik ruang gerak maupun ruang tembak mereka.

Pemain pada posisi ST yang nantinya akan diisi oleh Oliver Giroud sebagai starter, akan difungsikan memberikan pressing kepada pemain belakang lawan sekaligus sebagai pengalih perhatian.

- Upaya trio gelandang tengah Arsenal untuk memancing pressing gelandang tengah lawan serta upaya striker untuk memberikan tekanan kepada barisan belakang lawan, akan membuat sebuah area kosong antara barisan belakang dan barisan pemain tengah lawan. Area kosong ini nantinya akan dieksploitasi oleh pemain Arsenal pada posisi AMR atau AML melalui pergerakan memotong bola ke area tengah kemudian melepaskan tembakan ke arah gawang untuk menciptakan gol.

Apabila upaya gelandang tengah Arsenal dalam memancing pressing dari gelandang tengah lawan tidak berhasil, maka gelandang tengah Arsenal akan lebih leluasa dalam mencari ruang gerak serta ruang tembak.

Untuk mewujudkan 4 tujuan di atas, maka saya membuat kombinasi role seperti yang anda lihat pada gambar-gambar di bawah ini.

Tactic & Player Instructions

Team Instructions

Anda ingin melihat seperti apa hasil penerapannya?

Babak Pertama

Dibabak pertama, para pemain West Ham berusaha memberikan pressing kepada beberapa pemain Arsenal, terutama para gelandang tengah. Namun pressing yang dilakukan oleh West Ham tidak terlalu ketat, sehingga trio gelandang tengah Arsenal masih leluasa dalam mencari ruang gerak. Trio Gelandang tengah Arsenal (Arteta, Cazorla, dan Wilshere) selalu membuat pola segi tiga untuk tetap menjaga sirkulasi bola yang bersih, seperti yang dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.


Dari gambar di atas, dapat kita lihat bahwa pola segi tiga yang dibentuk oleh trio gelandang Arsenal merupakan salah satu konsep dari filosofi JDP ala Pep Guardiola untuk tujuan menciptakan superioritas jumlah dan sirkulasi bola yang bersih. Peran Arteta yang seperti sebelumnya diawal tulisan ini telah saya jelaskan bahwa pemain ini akan saya berikan peran seperti halnya peran Busquet di Barcelona, nampak menjalankan tugasnya dengan baik. Kesadaran mencari ruang untuk membantu rekan setimnya dalam memberikan opsi umpan terlihat sama persis dengan cara bermain Busquet.

Sementara itu, tujuan saya untuk memancing presing lawan guna menciptakan area kosong antara barisan belakang lawan dan barisan tengah sehingga area ini dapat dieksploitasi oleh pemain pada posisi AMR maupun AML ternyata berhasil saya wujudkan. Gambar dan video di bawah ini menunjukkan bagaimana strategi itu berjalan dengan cukup baik.

Eksploitasi ruang


Setelah berhasil mematahkan serangan yang dibangun oleh West Ham, para pemain Arsenal berusaha membuat serangan dari barisan belakang. Upaya memancing pressing lawan nampak berhasil saat bola berada di kaki Jack Wilshere. Jack Wilshere dengan sengaja menahan bola beberapa detik di kakinya untuk memancing pressing dari gelandang tengah kanan (MCR) West Ham Julio Baptista. Julio Baptista yang terpancing untuk melakukan pressing ke arah Wilshere meninggalkan celah vertikal di belakangnya. Hal ini dengan cepat diantisipasi oleh Wilshere dengan mengarahkan bola ke area tersebut dimana Alex Chamberlain bersiap untuk mengeksploitasinya. Namun sangat disayangkan, upaya Chamberlain melakukan drible hingga area kotak penalti gagal dan berhasil dihadang oleh barisan belakang West Ham. Upaya seperti ini banyak terjadi, baik Chamberlain maupun Walcott yang silih berganti melakukan upaya ini masih gagal untuk mengarahkan tembakan ke arah gawang West Ham.

Gol Arsenal dibabak pertama berhasil diciptakan oleh Oliver Giroud melalui skema sepak pojok. Adalah Walcott yang berhasil melakukan dribling ke area kotak penalti lalu melepaskan umpan pendek kepada Giroud yang berdiri di depan gawang. Dan dengan satu sontekan, Giroud berhasil menipu kiper West Ham.

Babak Kedua

Saya tidak banyak membuat perubahan taktik mengingat strategi yang saya jalankan dibabak pertama berjalan cukup bagus meski masih kurang maksimal. Melihat penampilan Alex Chamberlain yang kurang maksimal dalam menjalankan strategi yang saya buat, membuat saya memasukkan Alexis Sanchez dibabak kedua menggantikan Chamberlain.

Dibabak kedua, West Ham mulai memperketat pressing dan penjagaan mereka terhadap beberapa pemain tengah Arsenal. Seperti yang nampak pada gambar di bawah ini, pemain sayap kanan (MR) West Ham Morgan Amalfitano mulai diperintahkan untuk masuk ke area tengah membantu Julio Baptista (MCR) melakukan pressing kepada Jack Wilshere. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi upaya overload posisi di area tengah oleh Arsenal, sehingga kondisi 3 vs 2 yang terjadi dibabak pertama sebelumnya menjadi 3 vs 3 dibabak kedua dengan masuknya Amalfitano di area tengah. Sementara itu, Santi Cazorla nampak dimarking secara ketat oleh Alex Song mengingat sebelumnya dibabak pertama Cazorla beberapa kali mendapatkan ruang tembak yang cukup ideal untuk mengancam gawang West Ham. Sirkulasi bola Arsenal mulai terhambat dengan situasi ini. Pemain belakang bahkan Arteta pun mulai melepaskan umpan panjang langsung kepada Giroud.



Tak ingin tertekan, pemain-pemain Arsenal menunjukkan kreatifitas mereka. Upaya untuk mengalihkan perhatian lawan dengan memancing pressing lawan mulai memainkan umpan-umpan kombinasi. Ingat dengan permainan Bayern Muenchen sewaktu masih dilatih oleh Pep Guardiola? Dimana para pemain Bayern berusaha melakukan oveload posisi pada satu area memancing pemain lawan untuk masuk ke area tersebut, kemudian memindahkan bola dengan cepat ke sisi yang lain. Gambar dan video di bawah ini menunjukkan aksi tersebut




Jack Wilshere dan Arteta berusaha memancing pressing dari Amalfitano dan Julio Baptista. Setelah Amalfitano dan Julio Baptista masuk dalam perangkap yang dibuat oleh Arteta dan Wilshere, Arteta dengan cepat memindahkan bola ke sisi kiri dimana Kieran Gibbs mulai mengeksploitasi sisi kiri ini untuk kemudian melepaskan umpan crosing ke area kotak penalti. Sayangnya upaya untuk menciptakan gol dari aksi ini masih bisa digagalkan oleh rapatnya barisan pertahanan West Ham.


Eksploitasi ruang oleh Alexis Sanchez

Upaya Alexis Sanchez untuk mewujudkan rencana saya mengeksploitasi area kosong antara barisan pertahanan dan barisan tengah West Ham hampir saja membuahkan hasil. Alexis Sanchez berusaha menggiring bola dari sisi kiri (sisi kanan pertahanan West Ham) yang terus dikawal oleh bek kanan West Ham. Pergerakan Sanchez juga diikuti oleh Theo Walcott yang berusaha masuk dan menempati half space kiri pertahanan West Ham dan Debuchy yang bergerak di sayap kanan mencoba membuka jalur umpan baru. Pada saat mendekati kotak penalti, Sanchez sebenarnya memiliki 3 opsi yang bisa dipilihnya. Opsi pertama adalah melakukan shot ke arah gawang. Opsi kedua adalah memberikan umpan terobosan kepada Walcott yang sudah menempati half space dengan sedikit resiko dapat dipotong oleh Stewart Downing yang menutup jalur umpan kepada Walcott, serta opsi ketiga adalah memberikan umpan kepada Debuchy ke sayap kanan. Namun dalam hal ini Sanchez lebih memilih opsi pertama, tendangan keras Sanchez ke arah sudut kiri bawah gawang Adrian masih bisa ditepis oleh Adrian.

Aksinya dapat anda saksikan pada video di bawah ini.





Dalam sebuah kesempatan, Theo Walcott berupaya mengeksploitasi area kosong dengan sambil berupaya membangun kerja sama dengan Oliver Giroud untuk memainkan umpan satu dua. Sayangnya Oliver Giroud sepertinya tidak mengerti dengan maksud Theo Walcott meski telah berusaha mencari ruang disebelah kiri setelah melepaskan umpan kepada Giroud. Giroud yang masih menahan bola di kakinya, bola berhasil direbut oleh pemain belakang West Ham kemudian bola dibuang keluar dari area kotak penalti untuk mengamankan gawang mereka.




Meski telah unggul 2-0, saya belum merasa puas atas pencapaian yang dicapai saat ini. Saya masih sangat penasaran dengan strategi yang saya buat. Semua pemain nampak telah mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk memaksimalkan strategi saya. Akhirnya di menit 70 saya mencoba melakukan tweak taktik, saya meminta kepada semua pemain untuk meningkatkan tempo permainan, mengubah mental tim menjadi lebih menyerang serta mengganti Jack Wilshere dan memasukkan Tomas Rosicky. Jack Wilshere memang tidak bermain buruk, namun saya membutuhkan pemain yang masih fit memanfaatkan stamina pemain-pemain West Ham yang mulai turun. Alasan lain saya memilih Tomas Rosicky untuk menggantikan Wilshere adalah Rosicky memiliki atribut long shot yang lebih baik dari Wilshere. Keluarnya Wilshere membuat Morgan Amalfitano lebih fokus mengamankan sisi kanan mengawasi pergerakan Kieran Gibbs. Hal ini berpengaruh pada mudahnya Rosicky mencari ruang di area tengah.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Rosicky untuk mencoba memaksimalkan/mewujudkan strategi saya. Sepuluh menit berselang setelah dia masuk menggantikan Wilshere, Rosicky mencetak gol ketiga bagi Arsenal melalui sebuah skema serangan yang sangat baik.



Arteta yang dari awal pertandingan mendapatkan tugas sebagai playmaker, benar-benar sangat jenius dalam proses gol ketiga Arsenal ini. Dalam sebuah kesempatan dimana Arteta memiliki dua opsi untuk memulai serangan, Arteta lebih memilih opsi yang cukup beresiko. dapat kita lihat pada gambar di atas, dimana opsi yang lebih aman yang dapat Arteta pilih adalah melepaskan umpan horizontal kepada Rosicky di sisi kirinya untuk mengeksploitasi celah horizontal di depan Rosicky. Namun Arteta lebih memilih melepaskan umpan lambung kepada Giroud di depannya. Opsi ini terlihat sedikit beresiko karena umpan yang dilepaskan bisa saja dapat diantisipasi oleh Julio Baptista. Namun, disinilah kejeniusan seorang Arteta, opsi yang dipilihnya ini ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada Rosicky untuk bisa mencari posisi yang lebih baik. Ditambah lagi dengan peran Giroud yang sedikit memainkan bola menunggu  kesempatan terbukanya celah horizontal antara bek tengah West Ham sebagai ruang tembak Rosicky. Setelah memastikan Rosicky telah berada pada posisi yang tepat, Giroud melepaskan sebuah umpan horizontal mendatar kepada Rosicky yang ada di sisi kirinya. Rosicky sedikit mengontrol bola kemudian melepaskan tembakan keras terarah ke sudut kiri bawah gawang Adrian yang tak mampu dihalau oleh Adrian. Sebuah gol yang sangat indah menghapus kekecewaan saya atas ketidak mampuan pemain memaksimalkan setiap peluang yang mereka miliki.

Proses gol ketiga ini dapat anda saksikan pada video di bawah ini.




Evaluasi Taktik Diakhir Pertandingan

Setelah pertandingan ini berakhir, saya melakukan evaluasi di akhir pertandingan yang dapat anda saksikan melalui beberapa gambar di bawah ini.


Statistik Pertandingan
Dari gambar di atas dapat kita lihat bagaimana Arsenal memenangkan penguasaan bola 61% dengan tingkat keberhasilan pasing diatas 80%. Namun yang cukup mendapatkan perhatian serius adalah jumlah tembakan yang dilakukan Arsenal pada pertandingan kali ini. Dari 38 kali percobaan, hanya 15 tembakan yang terarah ke gawang (3 diantaranya berhasil menjadi gol). Jumlah ini memang masih sedikit dari perkiraan saya yang sebelum pertandingan telah memprediksikan akan tercipta minimal 50 tembakan dalam pertandingan ini mengingat saya mengaktifkan instruksi shoot more often kepada dua gelandang saya. Namun presing ketat yang dilakukan oleh West Ham membuat kedua gelandang tengah jarang memiliki kesempatan dan ruang tembak yang baik. Kesempatan menembak yang baik lebih banyak diperoleh oleh kedua inside forward saya, namun sayangnya tak pernah bisa dimaksimalkan menjadi gol.



Dari gambar di atas, ada 3 pemain yang harus mendapatkan perhatian serius karena memiliki tingkat keakuratan umpan dibawah dari 80%. Kondisi ini harus segera diperbaiki demi terciptanya strategi yang lebih baik.



Oliver Giroud menjadi Man of The Match pada pertandingan ini. Dan Alex Chamberlain sepertinya perlu mendapatkan perhatian agar dapat bermain sesuai harapan.





Cukup sampai disini tulisan saya, semoga bermanfaat.

 
Sebagai tambahan saja, setelah ini saya akan menghadapi suatu pertandingan big match dengan Manchester United. Penasaran akan cerita saya mengenai pertandingan tersebut? Sampai ketemu dicerita saya selanjutnya. Trims telah sudi mampir di blog saya yang sederhana ini.



Akhir kata dari saya, SALAM FM.

Proudly Powered by Blogger.