Sebuah artikel yang berjudul "Arsene Wenger's Invicibles" yang tautannya dapat anda lihat di sini, ditambah lagi dengan formasi 4-4-2 yang digunakan oleh Timnas Argentina kala melawan Nigeria di pertandingan akhir fase grup World Cup 2018 dimana taktik yang diterapkan ada kemiripan mulai membuat saya ingin mencoba lagi untuk menerapkan taktik ini. Taktik Brazil kala mengalahkan Mexico dan juga taktik Jepang melawan Belgia di partai perdelapan final WC2018 (lihat gol pertama Jepang atas Belgia), juga memiliki kemiripan taktik dengan taktik yang akan saya buat ini.
Di PC milik saya hanya terinstal 2 versi game Football Manager yakni FM15 dan FM17. Di FM17 saya hanya memiliki 1 save yang menggunakan FC Santos di liga Brazil. Sementara di FM15 saya memiliki beberapa save dimana salah satu save saya memainkan Timnas Indonesia dan sudah memasuki tahun 2020. Di sini saya lebih memilih menerapkannya bersama Timnas Indonesia di FM15. Alasannya kenapa FM15? Karena saya malas harus memulai game yang baru di FM17 sementara di FM15 Timnas Indonesia saya sementara berjuang untuk kualifikasi World Cup 2022. Tapi apakah taktik ini nantinya bisa diterapkan di FM versi manapun? Insya Allah bisa, jika anda bisa memahami filosofi taktik yang akan saya ulas di bawah ini.
Kerangka Berfikir
![]() |
| Gambar 1 - Kerangka Berfikir |
Dari gambar di atas dapat saya jelaskan bahwa :
- Tim akan saya bagi dalam 3 bagian, yakni tim bertahan, tim transisi dan tim menyerang. Tim bertahan terdiri dari 5 pemain (DCR/L, DR/L dan MCL). Tim transisi terdiri dari 4 pemain (MR/L, MCR, dan STCL). Sementara Tim menyerang terdiri atas 3 pemain (MR, STCR/L).
- Memfokuskan serangan melalui sisi kanan sehubungan dengan laporan scout bahwa oposisi memiliki kelemahan di sisi kiri pertahanan dimana asist dari gol yang tercipta lebih banyak tercipta dari sisi ini.
- Bermain dengan garis pertahanan normal
- Pemain diberikan kebebasan dalam kreatifitas namun sedikit terbatas pada beberapa pemain tertentu.
Formasi
![]() |
| Gambar 2 - Formasi Tim |
Jika anda sudah membaca artikel "Arsene Wenger's Invicibles" yang sudah saya sebutkan di atas, mungkin anda akan melihat ada sedikit perbedaan bentuk dan peran pemain. Benar, karena saya melakukan sedikit penyesuaian dengan pemahaman saya.
Pertama, tidak adanya role Wide Playmaker karena dalam tim saya hanya ada satu orang yang dapat memainkan peran ini, yakni Leroy Resodihardjo. Jika Leroy Resodihardjo saya mainkan di flank kendalanya adalah tidak adanya pemain back up dengan role yang sama jika pemain ini mengalami cedera begitu pula di gelandang tengah saya akan kekurangan pemain kreatif setelah Evan Dimas.
Kedua, posisi salah satu gelandang tengah yang saya mundurkan hingga ke pos DM adalah penyesuaian dengan taktik-taktik sebelumnya dimana saya lebih sering menggunakan formasi dengan 1 DM untuk lebih memberikan perlindungan kepada 2 CB.
Mental & Team Shape
| Gambar 3 - Mentalitas & Bentuk Tim |
Berhubung tim yang saya hadapi adalah salah satu tim terkuat di asia, maka saya memilih bermain dengan mental counter (meski bermain di markas sendiri). Dipertemuan kami sebelumnya dengan Timnas Jepang kami berhasil menahan imbang mereka 1-1 dengan mental counter. Gol penyama kedudukan dicetak oleh Ezra Walian di menit-menit akhir pertandingan setelah Jepang mulai kehilangan konsentrasi dan stamina pemain mulai menurun. Dari pengalaman inilah saya belajar dan mencoba cara yang sama untuk menggunakan mental counter guna menguras tenaga pemain lawan kemudian menghajar mereka saat mereka kehabisan tenaga.
Untuk team shape saya memilih bentuk Fluid. Pada taktik sebelumnya untuk Timnas Indonesia saya lebih banyak menggunakan bentuk Structured dan Flexible. Namun jika saya perhatikan kedua bentuk team shape tersebut sedikit bermasalah dalam transisi baik menyerang maupun bertahan. Ketika menangani tim besar baik di FM15 maupun FM17 saya menggunakan bentuk Very Fluid karena ingin mencoba menerapkan taktik Total Football. Untuk timnas saya tidak menggunakan bentuk Very Fluid karena saya anggap ini akan menjadi tindakan bunuh diri mengingat kreatifitas pemain Timnas yang berada dibawah rata-rata, hanya ada beberapa pemain saja yang memiliki kreatifitas rata-rata.
Instruksi Tim
![]() |
| Gambar 4 - Instruksi Tim |
Saya lebih memilih untuk memberikan instruksi tim yang cukup sederhana. Jika ditaktik sebelumnya saya menambahkan instruksi Retain possession dan Shorter passing, dalam taktik ini instruksi retain possession hanya saya gunakan dalam tweak taktik saat pertandingan berlangsung, terutama ketika tim memiliki kepemilikan dibawah 40%. Sementara untuk instruksi shorter passing tidak saya aktifkan dengan alasan saya telah memilih team shape Fluid dimana para pemain telah diberikan kebebasan dalam berkreasi. Mereka bisa menentukan sendiri jenis passing sesuai kondisi permainan yang ada.
Saya mengaktifkan instruksi Pass into space dengan tujuan melakukan serangan balik cepat dan memanfaatkan kecepatan beberapa pemain kunci terutama pemain sayap kanan dan stiker.
Instruksi Low crosses sebenarnya bukanlah instruksi default, saya hanya menyesuaikan dengan kondisi pemain yang ada. Dalam beberapa pertandingan yang kami lakoni, kami seringkali kalah dalam duel udara, sehingga memilih instruksi ini dirasa lebih tepat.
Seperti halnya instruksi low crosses, instruksi Exploit the right flank tidak merupakan intruksi default. Instruksi ini lebih disesuaikan kepada hasil laporan scout atau disesuaikan dengan kondisi taktik yang ada.
Instruksi Close down more dan Prevert short GK Distribution dimaksudkan untuk memberi tekanan kepada oposisi terutama dalam proses build up kiper. Detailnya akan dijelaskan pada Instruksi Oposisi.
Instruksi Be more disciplined yang dikombinasikan dengan team shape Fluid akan membatasi kebebasan kreatifitas pada pemain tertentu. Atau dengan kata lain, meski telah diberikan kreatifitas yang lebih kepada semua pemain, namun ada batasan yang harus ditaati oleh pemain terutama dalam melepaskan umpan beresiko.
Instruksi Pemain
Dalam instruksi pemain juga saya melakukannya dengan sangat sederhana. Hanya beberapa pemain tertentu saja yang diberikan instruksi khusus untuk mendukung taktik yang ada. Berikut instruksinya :
- GK - Goal Keeper (defend) : Distribute quickly
- DR - Full Back (support) : N/A
- DCR - Limited Defender (defend) : N/A
- DCL - Central Defend (defend) : N/A
- DL - Full Back (support) : N/A
- DM - Anchor Man (defend) : Close down less
- MR - Winger (attack) : Close down more
- MCR - Central Midfield (support) : Shoot more often & More direct passes
- ML - Wide Midfielder (support) : N/A
- AMCL - Attacking Playmaker (attack) : Close down more, Get futher forward, Move into channels, & Hold up ball
- STC - Complete Forward (support) : Close down more, Tackle harder, & Move into channels
Penjelasan : salah satu instruksi default dari seorang CF (support) adalah hold up ball yang berguna untuk menahan bola dan memberi kesempatan kepada beberapa pemain mengambil posisi menyerang. Pemain ini juga diharapkan menjadi pressure utama saat tim kehilangan kepemilikan dengan instruksi close down more. Move into channels berguna untuk memancing bek tengah oposisi untuk keluar dari posisi mereka sehingga memberi kesempatan kepada pemain lain untuk mengeksploitasi ruang yang ditinggalkan.
Instruksi Oposisi
Seperti yang sudah saya janjikan dalam penjelasan tentang instruksi tim, maka saya akan memberikan penjelasan untuk instruksi oposisi yang berguna mendukung instruksi tim Close down more. Bagian ini sebenarnya hanya merupakan bagian tambahan saja, karean setiap personal memiliki settingan tersendiri pada instruksi ini. Instruksi ini telah saya sesuaikan berdasarkan pemahaman saya.
Default :
![]() |
| Gambar 5 - Instruksi Oposisi |
Gambar di atas merupakan settingan default dari instruksi oposisi. Dari gambar di atas saya lebih memfokuskan pressing kepada pemain yang berada di tengah, ini berguna untuk memaksa oposisi bermain melalui area flank (pressing traps). Sementara untuk pemain oposisi yang berada di area flank diberikan instruksi tight marking yang berguna untuk memarking lawan sehingga ketika pemain tengah lawan mengarahkan bola kepada pemain ini, dengan segera pemain kita yang ada di posisi yang sama secepat mungkin menutup pergerakan lawan. Sementara untuk instruksi kepada striker oposisi lebih bersifat situasional yang penjelasannya dapat dilihat pada penjelasan instruksi oposisi saat pertandingan (in match).
Saat pertandingan (in match)
Instruksi oposisi saat pertandingan dapat mengikuti settingan default sebagaimana yang ada dalam gambar di atas. Namun pada beberapa kondisi tertentu beberapa instruksi perlu penyesuaian.
Sebagai contoh, ketika kita melawan tim yang menempatkan 2 pemain pada posisi DM (contohnya 4-2DM-3-1), maka instruksi close down more pada CB lawan dihilangkan untuk meminimalisir pemain tengah kita out positions karena akan terlalu naik melakukan pressure ke depan.
Sebagai contoh, ketika kita melawan tim yang menempatkan 2 pemain pada posisi DM (contohnya 4-2DM-3-1), maka instruksi close down more pada CB lawan dihilangkan untuk meminimalisir pemain tengah kita out positions karena akan terlalu naik melakukan pressure ke depan.
Demikian pula instruksi close down pada pemain oposisi yang berada di posisi AMC. Jika lawan menempatkan lebih dari 1 pemain pada posisi AMC, maka sebaiknya pemberian instruksi diberikan kepada pemain yang cenderung sebagai kreator ditambah dengan instruksi tight marking kepada pemain tersebut. Dan untuk menghindari CB kita terpancing untuk out positions, maka dapat ditambahkan instruksi pemain close down less kepada salah satu CB.
Sementara untuk instruksi tight marking pada striker dapat dikondisikan apabila oposisi hanya menggunakan striker tunggal yang juga dapat ditambahkan dengan instruksi cosing down always jika striker lawan memiliki peran sebagai kreator. Namun perlu diingat, tambahan ini hanya berlaku jika tim oposisi tidak menempatkan lebih dari 1 pemain pada posisi AMC. Apabila oposisi menggunakan lebih dari 1 striker, maka instruksi ini baiknya dihilangkan. Penambahan instruksi closing down always diberikan kepada salah satu striker oposisi yang memiliki peran sebagai kreator.
Analisis Taktik
Pada bagian ini saya akan membaginya dalam 2 bagian, yakni analisa taktik saat tim tanpa bola/kepemilikan dan saat tim dalam kepemilikan.
Tanpa bola/kepemilikan
Untuk penjelasan analisa taktik, saya akan mengambil contoh pertandingan Indonesia vs Japan dalam kualifikasi World Cup 2022.
![]() |
| Gambar 6 - Line Up Indonesia vs Japan |
Berdasarkan laporan scout tim bahwa Japan memainkan formasi 4-4-2. Namun tidak disangka dalam match ini mereka menggunakan formasi 4-3-3 narrow yang saya anggap bahwa tim ini akan tampil menyerang dan menekan. Mentality counter yang saya pilih sepertinya sudah tepat mengingat tim oposisi cukup ngotot untuk menyerang. Penempatan seorang pemain di posisi DM juga saya rasa cukup tepat mengingat tim oposisi menempatkan 3 striker.
Bentuk tim ketika tanpa bola/kepemilikan ada 2 bentuk, pertama berbentuk pola 4-4-2 (4-1-3-2) dan yang kedua membentuk pola 4-5-1 (4-1-4-1) yang dapat kita lihat pada 2 gambar di bawah ini.
![]() |
| Gambar 7.1 - Bentuk tim tanpa bola (4-4-2) |
![]() |
| Gambar 7.2 - Bentuk tim tanpa bola (4-5-1) |
Pada gambar 7.1 tim membentuk pola 4-4-2 (4-1-3-2) ketika menghadapi tekanan oposisi dari tengah. ML bergerak masuk ke tengah untuk mendukung memberikan tekanan kepada pemain oposisi yang membawa bola. MR ikut bergerak masuk ke tengah membentuk formasi yang rapat yang memungkinkan oposisi mengalirkan bola ke area flank. Sementara itu pemain pada posisi DM mempertahankan posisinya lebih dalam guna meminimalisir area tengah yang dapat dieksploitasi oleh lawan.
Pada gambar 7.2 tim membentuk pola 4-5-1 (4-1-4-1) dimana pemain pada posisi AMC ikut turun memberikan pressure kepada pemain lawan yang memegang bola meninggalkan ST di depan untuk menunggu serangan balik.
Kondisi lain ketika tim tidak dalam kepemilikan yakni pressing pemain terhadap oposisi guna menerapkan pressing traps dapat digambarkan sebagai berikut
![]() |
| Gambar 8 - Bentuk Pressing Tim |
Lingkaran berwarna merah adalah overload yang dilakukan pemain Indonesia untuk memberikan tekanan kepada pemain Japan. Panah berwarna biru muda adalah opsi umpan yang dimiliki oleh Higashi (8). Panah merah terputus adalah pressing pemain Indonesia terhadap pemain Japan. Dan panah biru terputus adalah opsi gerakan pemain Japan untuk mendapatkan ruang tepat sebagai opsi umpan dari pembawa bola.
Zamrun (11) bergerak masuk ke tengah untuk menutup opsi umpan Higashi ke depan dan membiarkan DL Japan terbuka untuk memaksa Higashi mengarahkan bola ke area flank kiri. Syaffarizal Agri (8) bergerak turun untuk mengawasi Y. Kakitani (10) dan K. Honda (7). Evan Dimas (5) memberikan pressure kepada pembawa bola sambil mengawasi kemungkinan bola dilepaskan kepada Y. kakitani (10). Sementara Ezra Walian (10) ikut turun untuk mencegah Higashi melakukan back pas kepada H. Terada (4) atau kepada K. Honda (7).
Zamrun (11) bergerak masuk ke tengah untuk menutup opsi umpan Higashi ke depan dan membiarkan DL Japan terbuka untuk memaksa Higashi mengarahkan bola ke area flank kiri. Syaffarizal Agri (8) bergerak turun untuk mengawasi Y. Kakitani (10) dan K. Honda (7). Evan Dimas (5) memberikan pressure kepada pembawa bola sambil mengawasi kemungkinan bola dilepaskan kepada Y. kakitani (10). Sementara Ezra Walian (10) ikut turun untuk mencegah Higashi melakukan back pas kepada H. Terada (4) atau kepada K. Honda (7).
Analisa taktik dengan bola/kepemilikan
![]() |
| Gambar 9 - Bentuk Ketika Dalam Kepemilikan |
Berdasarkan formasi yang saya bentuk, ada rencana pembentukan formasi berlian antara MCR-MR-ST-AMC yang kemudian didukung oleh 2 pemain diluar formasi berlian yang terdiri atas DR dan ML. DR diharapkan menjadi opsi umpan terdekat untuk mengexploitasi sisi kanan (area kotak merah), sementara ML dijadikan sebagai pemain yang dapat mengeksploitasi sisi underload (kotak kuning). Dalam situasi seperti dalam gambar 9, Ezra Walian (10) setelah menerima umpan dari Agri (8), melakukan La Pausa untuk memancing pressing lawan kemudian melepaskan umpan pendek kepada Zamrun (11) yang kemudian akan diteruskan kepada Rudi Nasrullah (2) yang siap mengeksploitasi sisi kanan. Sayangnya dalam situasi ini umpan yang dilakukan oleh Zamrun terlalu lambat dibandingkan pergerakan Nasrullah sehingga bola hanya ke luar lapangan.
![]() |
| Gambar 10.1 - Proses Gol Kedua Indonesia |
![]() |
| Gambar 10.2 - Proses Gol Kedua Indonesia |
Kedua gambar di atas merupakan sebuah proses serangan balik cepat timnas Indonesia yang mengubah skor 2-0 atas Japan.
Gambar 10.1 berawal dari kesalahan umpan yang dilakukan oleh bek tengah Japan Terada (4) kepada Higashi (8) yang langsung dipotong oleh Andik Vermansyah (15) yang masuk menggantikan Zamrun akibat cedera, bola langsung dialirkan Andik kepada Ezra Walian (10) di tengah. Ezra mengontrol bola sambil melakukan La Pausa untuk memancing pressing lawan sambil menunggu beberapa pemain mengambil posisi menyerang. Pada kondisi ini ada 3 pemain yang siap mengambil posisi menyerang yakni Andik (15), Agri (8), dan Evan Dimas (5).
Gambar 10.2 Ezra Walian mengalirkan bola kepada Agri (8) di tengah. Namun baru saja mengontrol bola, Agri sudah langsung ditekel oleh Yuki Shima (3) dan bola mengarah ke depan. Andik yang juga ikut bergerak naik bersama Agri langsung mengambil bola liar tersebut dan mencetak gol kemenangan setelah sebelumnya berhasil mengecoh Kiper Japan Yoshikatu Kamata.
Untuk lebih jelasnya seperti apa proses golnya, silahkan disimak video berikut
Untuk lebih jelasnya seperti apa proses golnya, silahkan disimak video berikut
Hasil Akhir
![]() |
| Gambar 11 - Hasil Akhir Indonesia vs Japan |
Kami berhasil mengalahkan Japan dan memantapkan posisi kami di puncak klasemen setelah sebelumnya berhasil mengalahkan Australia 2-0 (Home) dan UAE 3-1 (Away).
Taktik yang sama pula saya terapkan ketika menjamu salah satu tim kuat Asia, yakni Iran. Namun dalam match ini saya melakukan beberapa perubahan, yakni mentality saya ubah ke control (untuk mencoba melihat tim saat bermain menekan). DL saya berikan peran Full Back (defend). Sementara ML saya lakukan tweak menjelang babak kedua menjadi Winger (support) karena dalam beberapa momen saya melihat posisinya sangat jarang mengisi area tengah ketika tim sedang mengeksploitasi sisi kanan. Begitu pula pergerakannya lebih cenderung membawa bola ke area flank ketimbang melakukan cut inside. Alhasil cukup membuat formasi lawan makin terbuka. Dan dalam match tersebut kami berhasil mempecundangi Iran dengan skor 3-1.
![]() |
| Gambar 12 - Line Up Indonesia vs Iran |
![]() |
| Gambar 13 - Hasil Akhir Indonesia vs Iran |
Kesimpulan
Taktik ini sudah saya coba dalam 3 match. 2 match bersama Timnas Indonesia dan 1 Match lagi saya buat bersama Bayern Muenchen ketika menghadapi Borusia Dortmund yang berakhir dengan kekalahan 2-0. Berdasarkan analisa saya, kekalahan dari Dortmund disebabkan oleh kesalahan saya dalam memberikan instruksi oposisi dan kurang mengamati pemain oposisi yang bisa memberikan ancaman. Saya lebih terfokus untuk memperhatikan pergerakan pemain saya dalam mempraktekkan taktik ini. Jadi, taktik ini harus didukung oleh pemberian instruksi oposisi yang tepat untuk mendapatkan hasil yang memuaskan.
Taktik ini belum sempat saya coba di FM17 dikarenakan masalah waktu dan dalam save saya di FM17 bersama FC Santos saya nilai kurang cocok saya terapkan di tim ini. Dikhawatirkan juga para pemain Santos akan semakin bingung dengan perubahan filosofi dimana bersama tim Santos saya lebih banyak mengembangkan formasi 3 bek dengan filosofi taktik yang berbeda jauh dengan yang saya terapkan bersama Timnas Indonesia.
Saya mohon maaf jika saya tidak memberikan link download atas taktik ini. Karena saya yakin para pembaca bisa lebih mengembangkan taktik ini lebih baik lagi. Dan juga pembuatan artikel ini hanya dimaksudkan untuk membuka diskusi, siapa tahu di antara para pembaca dapat memberikan masukan.
Dan saya ucapkan banyak terima kasih kepada para pembaca/pengunjung blog ini yang sudah menyempatkan waktunya untuk membaca tulisan saya ini.









































