Sidebar One

Pages

Jumat, 16 September 2016

Partai Final Supercopa de Espana Leg-2 Melawan Real Madrid (Bag-4, Bagian Terakhir) #FM15

by Noval Yhan  |  in Story at  02.11

Ok guys, ini artikel ketiga saya di blog ini yang merupakan bagian ketiga dari artikel sebelumnya yang dapat anda lihat disini : bag-1bag-2bag-3.

Sebelum agan melanjutkan membaca cerita saya ini, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa segala tindakan/keputusan yang saya ambil dalam cerita ini adalah berdasarkan pemahaman saya sendiri. Tindakan/keputusan ini tidak mutlak untuk anda jadikan sebagai panduan tetap, namum bisa anda jadikan sebagai panduan sementara atau tambahan pengetahuan saja.

Pada bagian terakhir dari cerita saya mengenai partai final Supercopa de Espana leg-2 melawan Real Madrid ini saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang analisa hasil akhir pertandingan yang berkesudahan dengan skor 2-0 untuk kemenangan Barcelona dimana hasil ini membuat Barcelona memenangkan kejuaraan ini dengan agregat 3-3 (Barcelona menang agregat gol away/tandangkarena berhasil mencetak 1 gol tandang di markas Real Madrid).

Hasil pertandingan dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.
Gambar 1

Dari statistik pertandingan sebagai yang ditampilkan pada gambar di atas, Barcelona berhasil menguasai jalannya pertandingan dengan menguasai ball possession 62% berbanding 38% milik Madrid. Ini adalah pencapaian yang cukup tinggi mengingat Madrid merupakan salah satu pesaing terkuat Barcelona di kancah La Liga Spanyol. Barcelona melepaskan 33 tendangan dimana 15 diantaranya mengarah ke gawang. Sementara Madrid hanya mampu melesakkan  tendangan saja dan hanya 1 yang mengarah ke gawang. Untuk detail shots dalam pertandingan dapat anda lihat pada 2 gambar di bawah ini.
Gambar 2
Gambar 3

Dari gambar 2, dapat anda perhatikan bahwa Neymar dan Lionel Messi menjadi pemain yang banyak melepaskan tembakan. Neymar melepaskan 11 tembakan dan hanya 3 yang mengarah ke gawang, sementara Lionel Messi melepaskan 8 tembakan dan 5 diantaranya mengarah ke gawang Keylor Navas. Satu hal yang sangat menarik bagi saya adalah jumlah tembakan Sergio Busquet, 2 kali melepaskan tembakan, keduanya mengarah ke gawang dan 1 tembakan berhasil menjadi gol. Ini diluar ekspektasi saya mengingat Busquet saya tugaskan untuk menjadi kreator serangan dalam proses build-up tahap pertama. Namun siapa sangka, Busquet berhasil mencetak gol kedua pada pertandingan ini. Sementara itu di gambar 3 dimana CR7 yang menjadi pemain aktif melepaskan tembakan sebanyak 4 kali dan hanya sekali saja yang mengarah ke gawang C. Bravo. Ini membuktikan bahwa kompaksi pertahanan Barcelona baik di area tengah hingga area belakang sangat sulit untuk dicapai oleh Madrid yang hanya mengandalkan serangan balik. Kekuatan lapangan tengah yang dijaga oleh Busquet, Rakitic, dan S. Roberto nyaris tak menyisakan ruang kosong untuk dieksploitasi pemain-pemain Madrid.

 
Gambar 4
Pada gambar di atas menampilkan bagaimana suksesnya pemain-pemain Barcelona dalam melepaskan umpan. Marc Batra menjadi yang tersukses dengan capaian 94% umpan sukses. Satu hal yang cukup menarik dari gambar ini adalah jumlah passing yang dilepaskan oleh C. Bravo, ini adalah jumlah yang paling sedikit baginya selama Bravo saya mainkan. Hal ini disebabkan oleh kurang serangan Madrid yang berhasil mencapai pertahanan Barcelona untuk melepaskan tembakan ke arah gawang yang dijaga olehnya.

Gambar 5

Sementara di kubu Madrid, Toni Kross menjadi yang tersukses melepaskan umpan dengan capaian 88,1%. Seperti yang telah saya ceritakan pada bag-3, Toni Kross sejak awal babak pertama tidak mendapatkan pressing ketat dari para pemain Barcelona, karena saya hanya menginstruksikan untuk melakukan pressing kepada J. Martinez dan E. Banega. Hal ini membuat Kross dengan leluasa melapaskan umpan, namun hanya sebatas umpan-umpan pendek. Dibabak kedua Madrid mulai merubah strategi, Toni Kross mulai diinstruksikan untuk melepaskan umpan-umpan panjang ke arah sayap dan kotak penalti dengan tujuan agar lebih cepat mencapai pertahanan Barcelona melalui skema serangan balik cepat memanfaatkan blok pertahanan yang tinggi oleh Barcelona. Namun hal ini segera saya sadari dan segera saya antisipasi, sehingga Kross tak mampu lagi untuk membuat ancaman serius bagi pertahan Barcelona.

Gambar 6
Gambar 7

Dari dua gambar di atas bisa kita lihat di kubu Barcelona Pique menjadi yang terbanyak melakukan interceptions (8 kali), sementara di kubu Madrid Ramos menjadi yang terbanyak dengan 14 kali interceptions.

Gambar 8

Gambar 9

Gambar 10

Gambar 11

Dari hasil yang ada, saya merasa sangat puas dengan taktik yang telah saya racik sendiri. Semua berjalan sesuai dengan rencana dan ekspektasi saya. Madrid yang di musim kemarin menjadi tim pesaing utama bagi Barcelona, saya buat tak berkutik di laga ini. Satu hal yang cukup membuat saya senang adalah, saya mampu mewujudkan taktik JDP ala Guardiola semasa dia masih menjadi pelatih Barcelona. Taktik yang saya racik ini merupakan gabungan taktik yang terinspirasi dari beberapa manager populer seperti Guardiola, Diego Simeone, Roger Schmidt, dan Joachim Low. Inspirasi taktik dari Guardiola adalah filosofi Juego de Pocision (JDP) dimana ini yang menjadi fondasi utama dari taktik yang saya racik. Inspirasi dari taktik Diego Simeone adalah membuat kedua bek sayap merapat ke tengah pada saat transisi bertahan dengan instruksi pemain sit narrower. Inspirasi dari taktik Rodger Schmidt adalah sistim pressing sebagaimana dijelaskan oleh Mas Ryan Tank di blognya yang menarik mundur salah satu strikernya untuk menjadikan sebagai salah satu pressur utama dan juga sebagai akses serangan kepada striker utama. Namun dalam hal ini saya justru menjadikan kedua pemain sayap AMR dan AML sebagai striker utama dan pemain pada posisi striker menjadi akses serangan untuk kedua pemain sayap tersebut sekaligus sebagai pressur utama dalam transisi bertahan. Sementara inspirasi taktik dari Joachim Low adalah bagaimana ia menjiplak strategi Italia sehingga bisa menumbangkan Italia dari kompetisi EURO 2016 kemarin. Saya melihat di leg pertama, kunci permainan Madrid adalah pada peran para pemain tengah mereka. Di leg pertama ketiga pemain Madrid dengan sangat mudahnya menguasai lapangan tengah sehingga umpan Barcelona hanya berprogres dari sektor sayap. Role yang saya tetapkan pada pertandingan leg kedua ini tidak sama seperti halnya pada leg pertama. Jika dileg pertama, salah satu dari trio gelandang Barcelona difokuskan untuk melakukan serangan dan merusak kompaksi pertahanan Madrid, dileg kedua ketiga trio gelandang Barcelona justru saya buat hanya untuk memancing ketiga gelandang Madrid untuk keluar sehingga akses menuju hal space pertahanan Madrid oleh Messi dan Neymar semakin terbuka lebar. Dan startegi ini terbukti berhasil.

Dan sebagai penutup dari kisah ini, saya ingin berbagi sedikit tips bagi para manager FM yang antara lainnya:
1.      Sebelum memutuskan taktik seperti apa yang akan anda gunakan dalam menghadapi lawan anda nantinya, cobalah untuk mempersiapkan data awal berupa analisa kekuatan lawan baik itu berupa data tertulis seperti hasil laporan opposition analyst tim atau berupa data berupa rekaman pertandingan terakhir yang dilakoni oleh tim tersebut. Hal ini akan memudahkan bagi anda untuk membaca kekuatan dan kelemahan lawan.
2.      Cobalah untuk menonton pertandingan yang anda lakoni secara full match. Hal ini bertujuan agar anda bisa melihat sendiri bagaimana taktik yang anda racik itu bekerja. Tidak selamanya taktik yang sudah kita buat akan bekerja sesuai dengan harapan kita, menonton secara full match akan membuat kita bisa mengetahui dengan cepat apa yang menjadi masalah atau kendala sehingga taktik tersebut tidak bekerja dengan maksimal.
3.      Setelah pertandingan cobalah untuk selalu menganalisa hasil pertandingan yang anda lakoni. Karena dengan begitu kita akan bisa menilai apa saja yang kurang dari taktik kita dan menjadi perbaikan pada pertandingan selanjutnya.

Ok guys, cukup sampai disini saja cerita saya, semoga bermanfaat. Saya sengaja tidak membuat link download untuk taktiknya, karena instruksi yang saya buat terkada tidak konsisten, tergantung pada kondisi tim yang sedang saya lawan. Contohnya seperti instruksi work ball into box, akan saya nonaktifkan bila para pemain sudah mampu menguasai zona pertahanan lawan. Terkadang pula saya mengaktifkan instruksi shorter pass jika tim sering mengalami kesalahan pasing. Sehingga itu, silahkan anda melakukan penyesuaian dengan tim yang anda miliki. Kuncinya adalah, jangan lihat bentuk/formasi taktik saya, tapi lihatlah bagaimana rencana/maksud yang terpendam dari setiap instruksi, pemberian role, dan tweak taktik yang saya lakukan. Karena dengan begitu, anda akan bisa memahami bagaimana cara saya berpikir untuk merancang taktik semacam ini.


Akhir kata dari saya, SALAM FM.

TAMAT

Sumber referensi dibuatnya artikel ini :

0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.