Ok
guys, ini artikel ketiga saya di blog ini yang merupakan bagian ketiga dari
artikel sebelumnya yang dapat anda lihat disini : bag-1 – bag-2 – bag-3.
Sebelum
agan melanjutkan membaca cerita saya ini, perlu saya ingatkan terlebih dahulu
bahwa segala tindakan/keputusan yang saya ambil dalam cerita ini adalah
berdasarkan pemahaman saya sendiri. Tindakan/keputusan ini tidak mutlak untuk
anda jadikan sebagai panduan tetap, namum bisa anda jadikan sebagai panduan
sementara atau tambahan pengetahuan saja.
Pada
bagian terakhir dari cerita saya mengenai partai final Supercopa de Espana
leg-2 melawan Real Madrid ini saya akan memberikan sedikit penjelasan tentang
analisa hasil akhir pertandingan yang berkesudahan dengan skor 2-0 untuk
kemenangan Barcelona dimana hasil ini membuat Barcelona memenangkan kejuaraan
ini dengan agregat 3-3 (Barcelona menang agregat gol away/tandangkarena
berhasil mencetak 1 gol tandang di markas Real Madrid).
Hasil
pertandingan dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.
![]() |
| Gambar 1 |
Dari
statistik pertandingan sebagai yang ditampilkan pada gambar di atas, Barcelona
berhasil menguasai jalannya pertandingan dengan menguasai ball possession 62%
berbanding 38% milik Madrid. Ini adalah pencapaian yang cukup tinggi mengingat
Madrid merupakan salah satu pesaing terkuat Barcelona di kancah La Liga Spanyol.
Barcelona melepaskan 33 tendangan dimana 15 diantaranya mengarah ke gawang.
Sementara Madrid hanya mampu melesakkan
tendangan saja dan hanya 1 yang mengarah ke gawang. Untuk detail shots
dalam pertandingan dapat anda lihat pada 2 gambar di bawah ini.
![]() |
| Gambar 2 |
![]() |
| Gambar 3 |
Dari
gambar 2, dapat anda perhatikan bahwa Neymar dan Lionel Messi menjadi pemain
yang banyak melepaskan tembakan. Neymar melepaskan 11 tembakan dan hanya 3 yang
mengarah ke gawang, sementara Lionel Messi melepaskan 8 tembakan dan 5
diantaranya mengarah ke gawang Keylor Navas. Satu hal yang sangat menarik bagi
saya adalah jumlah tembakan Sergio Busquet, 2 kali melepaskan tembakan,
keduanya mengarah ke gawang dan 1 tembakan berhasil menjadi gol. Ini diluar
ekspektasi saya mengingat Busquet saya tugaskan untuk menjadi kreator serangan
dalam proses build-up tahap pertama. Namun siapa sangka, Busquet berhasil
mencetak gol kedua pada pertandingan ini. Sementara itu di gambar 3 dimana CR7
yang menjadi pemain aktif melepaskan tembakan sebanyak 4 kali dan hanya sekali
saja yang mengarah ke gawang C. Bravo. Ini membuktikan bahwa kompaksi
pertahanan Barcelona baik di area tengah hingga area belakang sangat sulit
untuk dicapai oleh Madrid yang hanya mengandalkan serangan balik. Kekuatan lapangan
tengah yang dijaga oleh Busquet, Rakitic, dan S. Roberto nyaris tak menyisakan
ruang kosong untuk dieksploitasi pemain-pemain Madrid.
Pada
gambar di atas menampilkan bagaimana suksesnya pemain-pemain Barcelona dalam
melepaskan umpan. Marc Batra menjadi yang tersukses dengan capaian 94% umpan
sukses. Satu hal yang cukup menarik dari gambar ini adalah jumlah passing yang
dilepaskan oleh C. Bravo, ini adalah jumlah yang paling sedikit baginya selama
Bravo saya mainkan. Hal ini disebabkan oleh kurang serangan Madrid yang
berhasil mencapai pertahanan Barcelona untuk melepaskan tembakan ke arah gawang
yang dijaga olehnya.
![]() |
| Gambar 5 |
Sementara
di kubu Madrid, Toni Kross menjadi yang tersukses melepaskan umpan dengan
capaian 88,1%. Seperti yang telah saya ceritakan pada bag-3, Toni Kross sejak
awal babak pertama tidak mendapatkan pressing ketat dari para pemain Barcelona,
karena saya hanya menginstruksikan untuk melakukan pressing kepada J. Martinez
dan E. Banega. Hal ini membuat Kross dengan leluasa melapaskan umpan, namun
hanya sebatas umpan-umpan pendek. Dibabak kedua Madrid mulai merubah strategi,
Toni Kross mulai diinstruksikan untuk melepaskan umpan-umpan panjang ke arah
sayap dan kotak penalti dengan tujuan agar lebih cepat mencapai pertahanan
Barcelona melalui skema serangan balik cepat memanfaatkan blok pertahanan yang
tinggi oleh Barcelona. Namun hal ini segera saya sadari dan segera saya
antisipasi, sehingga Kross tak mampu lagi untuk membuat ancaman serius bagi
pertahan Barcelona.
![]() |
| Gambar 6 |
![]() |
| Gambar 7 |
Dari
dua gambar di atas bisa kita lihat di kubu Barcelona Pique menjadi yang
terbanyak melakukan interceptions (8 kali), sementara di kubu Madrid Ramos
menjadi yang terbanyak dengan 14 kali interceptions.
![]() |
| Gambar 8 |
![]() |
| Gambar 9 |
![]() |
| Gambar 10 |
![]() |
| Gambar 11 |
Dari
hasil yang ada, saya merasa sangat puas dengan taktik yang telah saya racik
sendiri. Semua berjalan sesuai dengan rencana dan ekspektasi saya. Madrid yang
di musim kemarin menjadi tim pesaing utama bagi Barcelona, saya buat tak
berkutik di laga ini. Satu hal yang cukup membuat saya senang adalah, saya
mampu mewujudkan taktik JDP ala Guardiola semasa dia masih menjadi pelatih
Barcelona. Taktik yang saya racik ini merupakan gabungan taktik yang
terinspirasi dari beberapa manager populer seperti Guardiola, Diego Simeone,
Roger Schmidt, dan Joachim Low. Inspirasi taktik dari Guardiola adalah filosofi
Juego de Pocision (JDP) dimana ini yang menjadi fondasi utama dari taktik yang
saya racik. Inspirasi dari taktik Diego Simeone adalah membuat kedua bek sayap
merapat ke tengah pada saat transisi bertahan dengan instruksi pemain sit
narrower. Inspirasi dari taktik Rodger Schmidt adalah sistim pressing
sebagaimana dijelaskan oleh Mas Ryan Tank di blognya yang menarik mundur salah
satu strikernya untuk menjadikan sebagai salah satu pressur utama dan juga
sebagai akses serangan kepada striker utama. Namun dalam hal ini saya justru menjadikan
kedua pemain sayap AMR dan AML sebagai striker utama dan pemain pada posisi
striker menjadi akses serangan untuk kedua pemain sayap tersebut sekaligus
sebagai pressur utama dalam transisi bertahan. Sementara inspirasi taktik dari
Joachim Low adalah bagaimana ia menjiplak strategi Italia sehingga bisa
menumbangkan Italia dari kompetisi EURO 2016 kemarin. Saya melihat di leg
pertama, kunci permainan Madrid adalah pada peran para pemain tengah mereka. Di
leg pertama ketiga pemain Madrid dengan sangat mudahnya menguasai lapangan
tengah sehingga umpan Barcelona hanya berprogres dari sektor sayap. Role yang
saya tetapkan pada pertandingan leg kedua ini tidak sama seperti halnya pada
leg pertama. Jika dileg pertama, salah satu dari trio gelandang Barcelona
difokuskan untuk melakukan serangan dan merusak kompaksi pertahanan Madrid, dileg
kedua ketiga trio gelandang Barcelona justru saya buat hanya untuk memancing
ketiga gelandang Madrid untuk keluar sehingga akses menuju hal space pertahanan
Madrid oleh Messi dan Neymar semakin terbuka lebar. Dan startegi ini terbukti
berhasil.
Dan
sebagai penutup dari kisah ini, saya ingin berbagi sedikit tips bagi para
manager FM yang antara lainnya:
1. Sebelum
memutuskan taktik seperti apa yang akan anda gunakan dalam menghadapi lawan
anda nantinya, cobalah untuk mempersiapkan data awal berupa analisa kekuatan
lawan baik itu berupa data tertulis seperti hasil laporan opposition analyst
tim atau berupa data berupa rekaman pertandingan terakhir yang dilakoni oleh
tim tersebut. Hal ini akan memudahkan bagi anda untuk membaca kekuatan dan
kelemahan lawan.
2. Cobalah
untuk menonton pertandingan yang anda lakoni secara full match. Hal ini
bertujuan agar anda bisa melihat sendiri bagaimana taktik yang anda racik itu
bekerja. Tidak selamanya taktik yang sudah kita buat akan bekerja sesuai dengan
harapan kita, menonton secara full match akan membuat kita bisa mengetahui
dengan cepat apa yang menjadi masalah atau kendala sehingga taktik tersebut
tidak bekerja dengan maksimal.
3. Setelah
pertandingan cobalah untuk selalu menganalisa hasil pertandingan yang anda
lakoni. Karena dengan begitu kita akan bisa menilai apa saja yang kurang dari
taktik kita dan menjadi perbaikan pada pertandingan selanjutnya.
Ok
guys, cukup sampai disini saja cerita saya, semoga bermanfaat. Saya sengaja
tidak membuat link download untuk taktiknya, karena instruksi yang saya buat
terkada tidak konsisten, tergantung pada kondisi tim yang sedang saya lawan.
Contohnya seperti instruksi work ball into box, akan saya nonaktifkan bila para
pemain sudah mampu menguasai zona pertahanan lawan. Terkadang pula saya
mengaktifkan instruksi shorter pass jika tim sering mengalami kesalahan pasing.
Sehingga itu, silahkan anda melakukan penyesuaian dengan tim yang anda miliki.
Kuncinya adalah, jangan lihat bentuk/formasi taktik saya, tapi lihatlah
bagaimana rencana/maksud yang terpendam dari setiap instruksi, pemberian role,
dan tweak taktik yang saya lakukan. Karena dengan begitu, anda akan bisa
memahami bagaimana cara saya berpikir untuk merancang taktik semacam ini.
Akhir
kata dari saya, SALAM FM.
TAMAT
Sumber referensi dibuatnya artikel ini :











0 komentar: