Sidebar One

Pages

Jumat, 29 Juli 2016

Partai Final Supercopa de Espana Leg-2 Melawan Real Madrid (Bag-1) #FM15

by Noval Yhan  |  in Story at  14.48

Ok guys, ini artikel pertama saya di blog ini. Sebenarnya pengen bagi cerita ini di Group IDFM, tapi mengingat ceritanya bakal paaaanjang banget, makanya cerita ini saya bagi aja di blog ini.

Sebelum agan melanjutkan membaca cerita saya ini, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa segala tindakan/keputusan yang saya ambil dalam cerita ini adalah berdasarkan pemahaman saya sendiri. Tindakan/keputusan ini tidak mutlak untuk anda jadikan sebagai panduan tetap, namum bisa anda jadikan sebagai panduan sementara atau tambahan pengetahuan saja.

PENDAHULUAN
Cerita ini berawal dari kekalahan tim saya (Barcelona FC) di Final Supercopa de Espana leg-1 melawan Real Madrid. Jika kalah skor tapi permainan bagus sih gak apa-apa menurut saya, tapi ini udh kalah skor malah kalah dalam segi kualitas permainan lagi, pusing tujuh keliling saya dibuatnya. Padahal menurut saya taktik yang udah saya rancang sedemikian rupa adalah taktik andalan yang paling jitu menurut saya (menurut saya sebelum mendapatkan inspirasi analisa taktik). Sesaat setelah kalah dari Madrid pada leg-1 saya langsung save game dan keluar dari game, karena saya udah gak mood buat melanjutkan game...
Keseokan harinya (siang tepatnya) saya buka laptop dan langsung buka facebook. Saya langsung melihat-lihat beberapa pemberitahuan terutama pemberitahuan dari grup kesayangan saya yakni Football Manager Indonesia (IDFM). Setelah melihat-lihat beberapa postingan yang dibuat oleh beberapa anggota grup, saya tertarik dengan sebuah link yang dibagikan oleh Mas Ryan Tank yakni sebuah artikel yang berjudul “Analisis Taktis Dalam Sepak Bola” dari blog yang ditulis oleh Mas Ryan Tank sendiri. Dari artikel ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dan mulai memahami cara menganalisa taktik baik taktik lawan maupun taktik sendiri. Cara menganalisa taktik seperti ini sudah lama saya cari, tapi baru kali ini dan di blognya Mas Ryan Tank itulah saya menemukannya (Bila Mas Ryan Tank sempat membaca artikel  saya ini, saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya buat mas Ryan karena telah membuat artikel dengan tulisan yang bagus yang mebuat saya mendapatkan inspirasi baru).
Berikut saya kutip sedikit tulisan yang ada dalam artikel tersebut yang membuat saya menemukan inspirasi baru serta membuat saya jadi makin bersemangat lagi untuk main FM.
Cara berpikir yang identik bisa dijumpai dalam sepak bola. Katakan seorang manajer memerlukan data calon lawan. Untuk itu, ia meminta opposition-analyst (kalau ada) untuk mengumpulkan semua data yang diperlukan, untuk kemudian dari data yang masuk manajer bisa menentukan apa saja strategi yang akan digunakannya. Contoh, karena manajer melihat (berdasarkan masukan opposition-analyst) lawan sangat rentan di lini tengah, ia memerintahkan anak asuhnya untuk berfokus menyerang melalui zona 8, 11, dan 14, yang kebetulan kesemuanya merupakan zona yang terletak di tengah. Dengan detail taktik :
1) Melakukan pressing intensitas tinggi di zona-zona tersebut saat tim sedang tidak menguasai bola dengan cara menginstruksikan dua pemain sebagai presser utama terhadap pemegang bola dan 2-3 pemain lain sebagai pressing-cover yang bertugas menutup semua jalur umpan yang ada.
2) Setiap kali berhasil merebut bola, fokus serangan berfokus ke poros tengah dengan cara 4 pemain menciptakan formasi mini berlian untuk mendukung progresi bola yang “bersih”. Formasi berlian didukung oleh masing-masing 1 pemain di kedua sisi sayap (di luar formasi berlian) yang bergerak maju secepatnya untuk memecah kompaksi horisontal lawan dengan harapan lawan meninggalkan ruang yang lebih besar di area tengah.
3) Penyerang diminta ikut dalam fase satu sampai dengan tiga serangan dan berperan sebagai pemain terdepan dari formasi mini berlian tadi. Sementara satu gelandang berperan sebagai nomor 6 dan dua pemain lainnya berada pada masing-masing sisi kiri dan kanan dari formasi mini berlian.

Dari penggalan artikel ini saya baru menyadari bahwa area tengah lapangan permainan adalah area yang krusial. Maaf, bukannya saya ingin mengatakan bahwa area lain tidak penting, namun setelah saya analisa bahwa jika area tengah kita tidak kuat, jumlah pemain kita di area tengah kalah jumlah dari pemain lawan, meski kita memiliki bek dan kiper tangguh, kita bakal kebobolan, pertahanan kita mudah untuk diobrak-abrik oleh lawan (ini juga berdasarkan pengalaman saya selama main FM). Dari point 1 pada penggalan artikel di atas saya mulai paham bahwa setelah kita mendapatkan laporan tentang analisis taktik lawan, kita akan mengetahui pemain mana saja yang harusnya mendapatkan perhatian khusus untuk diberikan pressing yang ketat dan tidak. Begitu pula menentukan pemain kita yang mana saja yang perlu diaktifkan instruksi clossing down more (pada players instructions) sebagai pressur utama dan mana yang perlu diaktifkan close down less untuk dijadikan sebagai pressing cover yang tujuannya adalah agar formasi kita tidak mudah diacak-acak oleh pemain lawan (yang dalam hal ini anda akan temukan saat menonton pertandingan bahwa pemain anda tidak semua muda terpancing untuk dibawa keluar dari posisinya oleh pemain lawan sehingga menimbulkan ruang kosong untuk dieksploitasi oleh lawan). Dari point 2 saya sangat tertarik sekali dengan istilah “formasi mini berlian” yang disebutkan oleh Mas Ryan dalam artikel tersebut. Sehingga saya mulai berfikir untuk menjadikan pola ini sebagai dasar dari setiap taktik saya. Penjabaran tentang point 2 dan 3 ini akan saya jelaskan lebih lanjut pada cerita saat akan membuat taktik (bag-2 dari artikel ini).

Setelah membaca artikel tersebut, saya melanjutkan membaca artikel (masih di blognya Mas Ryan Tank) dengan judul “RBS 3-0 FC Bayern : Analisa Sistem Permainan RogerSchmidt” yang berikut saya kutip sebagian kecil dari tulisannya yang menispirasi saya :

Opsi lain, seperti yang diperlihatkan Schmidt, menarik satu dari duo penyerang untuk mengisi pos nomor 10 dan bertransformasi ke pola 4-2-3-1. Ini ditujukan untuk mengamankan lini tengah, mengisi ruang di antara strata gelandang dan penyerang. Kedua penyerang RBS, memiliki tugas yang sedikit berbeda. Dalam fase bertahan dan transisinya, salah satu dari duo penyerangnya, seperti yang saya jelaskan di atas, lebih banyak terlibat di lini tengah. Beberapa kali dalam partai ini, ia swap position dengan Sadio Mane (LM). Sementara Jonathan Soriano, striker lainnya, banyak difungsikan sebagai penyerang yang stay forward dan memberikan pressing pada lini belakang Bayern.

Dari penggalan artikel ini saya mendapatkan inspirasi menjadikan striker saya sebagai bagian dari formasi mini berlian (seperti yang disebutkan dalam penggalan artikel pertama di atas), menjadikannya sebagai salah satu pressur utama dan membuatnya menjadi pemain yang memancing bek lawan untuk keluar dari posisi mereka. Lebih lanjut lagi akan saya jelaskan secara rinci pada bagian 2 artikel ini.

Lalu saya mencoba browsing lagi beberapa artikel yang natara lainnya “Taktik Imitasi Jerman Gulingkan Italia” oleh Mas Ganesha Putera. Dari artikel ini saya belajar bahwa menentukan taktik itu harus diseimbangkan dengan taktik lawan kita. Seperti halnya yang dilakukan oleh Joachim Low menjiplak taktik Italia. Saya berikan contoh untuk anda agar lebih paham lagi apa sebenarnya yang saya dapatkan dari artikel tersebut. Misalnya lawan yang akan anda hadapi menggunakan formasi 4-2 DM-3-1, yang berarti lawan menempatkan 3 pemainnya untuk menguasai zona 5, 8, dan 11. Untuk mengimbangi formasi ini baiknya anda juga menempatkan minimal 3 orang pemain anda untuk mengisi sektor tengah. Mengingat lawan kita menempatkan pemain di posisi AMC, ini bearti anda harus mengimbanginya dengan menempatkan minimal 1 pemain pada posisi DM. Dan melihat lawan anda menempatkan 2 pemain pada posisi DM, maka sebaiknya kita menghindari menempatkan pemain pada posisi ini dengan tujuan menghindari pemain kita terisolir serta menghindari kedua pemain lawan pada posisi tersebut tidak keluar dari posisinya sehingga untuk menciptakan ruang di area ini menjadi sulit. Cara yang dapat dilakukan adalah menempatkan minimal 2 pemain dengan visi yang bagus pada posisi MC sebagai pembagi bola dengan duty support agar para pemain ini tidak terburu-buru untuk memasuki pertahanan lawan dengan tujuan memancing kedua DM lawan untuk melakukan pressing dan meninggalkan posisi sehingga akan tercipta ruang yang dapat kita eksploitasi. Kira-kira seperti itulah pemahaman saya hasil dari membaca artikel tersebut.

MENGANALISA TAKTIK
Setelah mendapatkan inspirasi dari beberapa artikel yang saya baca tersebut di atas, keesokan harinya barulah saya melanjutkan save-an saya. Saya mulai merancang taktik sesuai dengan inspirasi yang saya sudah dapatkan kemarin dari beberapa artikel yang saya baca.

Sebelum melanjutkan pertandingan leg-2 Final Supercopa de Espana melawan Madrid, saya masih diperhadapkan dengan Valencia pada laga awal di musim ketiga La Liga Spanyol (musim 2016-2017). Saya berfikir untuk melakukan sedikit demonstrasi penerapan taktik hasil inspirasi yang saya dapatkan dari beberapa artikel yang sudah saya baca. Hasil dari pertandingan melawan Valencia berakhir dengan skor kaca mata 0-0. Meski begitu saya tetap puas dengan permainan tim, karena permainan tim mengalami perubahan yang sangat besar. Para pemain tidak bisa mencetak gol dikarenakan faktor ketidak beruntungan semata.

Setelah melakoni laga ini, saya mencoba menganalisa kembali cuplikan pertandingan melawan Madrid pada leg-1 Final Supercopa de Espana sebagai langkah awal mempersiapkan taktik melawan Madrid di Camp Nou. Berikut beberapa analisa pertandingan hasil leg-1 :
1.   Di leg pertama saya meggunakan formasi 4-1DM-2-3, begitu pula dengan Madrid. Namun dalam hal ini saya baru menyadari telah salah dalam memberikan role kepada 3 gelandang dan 2 bek sayap saya. 3 gelandang yang terdiri dari 1 DM yang saya beri role Half Back-defend dan 2 MC yang saya beri role Box to box-support dan Attacking Playmaker-Attack menghadapi 3 gelandang Madrid yang memiliki role DM-D – BWM-S – CM-S. Sudah kebayangkah bagi anda bagaimana akan hancurnya formasi di sektor tengah Barcelona? Posisi DM dengan role HB-Defend terlalu berlebihan mengingat Madrid hanya menggunakan 1 striker dan tanpa AMC (anda pasti ingat pertemuan antara Spanyol dan Italy di Euro kemarin? Anda ingat bagaimana seorang Busquet bermain pada posisi tanpa menjaga pemain manapun?) seperti itulah pula S. Busquet yang saya main pada posisi ini. Kemudian kombinasi role AP-A dengan B2B-S sebenarnya cukup bagus, sayangnya tidak didukung oleh keberadaan pemain pada posisi DM untuk membentuk formasi segitiga atau formasi mini berlian bersama striker. Sementara itu pada pertandingan ini saya memberikan role CWB-S kepada kedua bek sayap, dengan tujuan mendorong kedua pemain sayap (AMR dan AML) Madrid ke dalam pertahanan mereka. Sayangnya cara ini justru membuat kedua pemain sayap Madrid lebih leluasa dalam menyerang dan memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan oleh kedua bek sayap Barcelona. Pada gambar 1 di bawah ini, anda dapat melihat bagaimana sulitnya pemain tengah Barcelona berkreasi di lapangan tengah menghadapi pemain tengah Madrid yang sangat solid menjaga daerahnya masing-masing. Anda perhatikan pula tanda/garis merah yang merupakan jarak antar pemain tengah dengan striker yang tidak membentuk formasi mini berlian dengan baik. Kemudian anda lihat pula pada gambar nomor 2 bagaimana bentuk formasi pemain tengah Madrid yang dibantu oleh CR7 membantuk formasi mini berlian dan menjadikan posisi di lapangan tengah 1 vs 1 plus Ilaramendi (DM) yang bebas tanpa mengawal siapapun. Meskipun telah dibantu oleh 2 bek sayap yang sudah mengambil posisi melebar, tetap saja upaya ini tidak membantu untuk membongkar prtahanan Madrid yang sangat solid. Dari sini saya baru menyadari betapa bodohnya saya yang hanya asal-asalan dalam memberikan role kepada pemain. Mungkin dari segi penyerangan cukup membantu, namun cukup rentan dari serangan balik lawan. Namun apalah dikata, nasi telah menjadi bubur. Saya hanya berusaha memperbaiki apa yang telah menjadi kesalahan saya, dan dari kekalahan ini pula saya bisa menyadari kesalahan saya.
Gambar 1
Gambar 2

2.     Pada gambar 3 di bawah ini Barcelona sempat mendapatkan peluang emas di awal-awal babak pertama melalui pergerakan L. Suarez yang bergerak ke tengah memberikan umpan kepada S. Roberto yang berdiri tanpa pengawalan, kemudian meneruskan umpan kepada Munir yang telah berdiri bebas memanfaatkan ruang kosong yang tercipta, sayang tendangan Munir melayang di atas mistar gawang Madrid.
Gambar 3

3.  Berawal dari sebuah serangan Barcelona yang berhasil dipatahkan oleh pemain belakang Madrid, Sergio Ramos langsung memberikan umpan panjang kepada CR7. Awalnya terlihat bola mudah untuk diantisipasi oleh Mascherano, Mascherano bermaksud menyundul bola ke arah belakang kepada Ter Stegen, namun sayang sundulannya terlalu lemah dan jatuh di dekat CR7 yang sedari tadi beradu sprint dengan Mascherano (lihat gambar 4 dan 5). Pada gambar 6 CR7 yang tinggal berhadap-hadapan 1 vs 1 (one on one) dengan Ter Stegen menendang bola ke sudut kanan gawang Ter Stegen. Gol tercipta, 1-0 untuk Madrid. Setelah melihat cuplikan gol ini saya mulai menyadari bahwa tim saya bermain dengan blok pertahanan yang sangat tinggi. Hal ini tidak sempat terpikirkan oleh saya bahwa kedua CB saya kalah speed dari seorang CR7. Sungguh ini adalah kebodohan kedua saya yang baru saya sadari.
Gambar 4

Gambar 5

Gambar 6

4.    Pada gambar 7 bisa anda lihat bagaimana dengan mudahnya para gelandang tengah Madrid dalam melepaskan umpan dan berhasil menguasai zona 5 pertahanan Barcelona di babak kedua. Dan lihat pula bagaimana dengan mudahnya seorang CR7 bisa menemukan ruang diantara penjagaan Pique dan Mascherano. Setelah melihat cuplikan gol ini saya baru menyadari bahwa di awal-awal babak pertama Assisten saya sempat menyarankan kepada saya untuk menugaskan salah satu pemain melakukan marking kepada CR7. Awalnya saya tidak merespon saran tersebut, namun karena saya melihat bagaimana CR7 sempat membuat pertahanan kami mulai kacau, akhirnya saya merespon saran ini dan memberikan tugas tersebut kepada Gerard Pique. Alhasil malah menyebabkan pertahanan makin mudah untuk terpancing membuat ruang kosong yang mudah dieksploitasi. Lihat proses gol pertama pada gambar 4 di atas, meski sudah mengaktifkan marking man to man kepada CR7, CR7 tetap tidak terjaga oleh Pique karena CR7 berusaha menghidari Pique dan berusaha bertarung dengan Mascherano yang disadarinya kalah speed. Hal ini belum saya sadari di babak pertama. Sehingga memasuki babak kedua pun saya belum menyadarinya dan tugas tersebut masih saya berikan kepada Pique untuk menjaga ketat CR7. Ini adalah kebodohan saya yang ketiga.
Gambar 7

5.      Barcelona sempat membuka harapan dengan mencetak gol untuk memperkecil ketertinggalan mereka melalui sepakan keras J. Alba dari luar kotak penalti hasil umpan S. Roberto. Tendangan keras Alba sempat ditepis oleh Iker Casillas dan bola jatuh di samping kanan gawang Madrid, Alba melepaskan tendangan keduanya memanfaatkan bola rebound tersebut tanpa mampu dihalangi oleh Casillas. Skor 2-1 masih untuk kemenangan Madrid. (Maaf proses golnya tidak sempat di screenshots).
6.     Pada gambar 8, Erik Lamela yang berposisi sebagai AMR bergerak memasuki tengah. Kross mengarahkan bola kepada Erik Lamela yang dengan cepat dengan sedikit sentuhan saja bola dilepaskan mengarah ke ruang kosong antara Pique dan Mascherano. CR7 bergerak menyambut bola dan melakukan tendangan terarah ke sudut kiri atas gawang Ter Stegen. 3-1 untuk kemenangan Madrid, dan hasil ini bertahan hingga akhir babak kedua. Pada gol ketiga ini saya baru menyadari kesalahan saya yang menugaskan Pique untuk melakukan tight marking kepada CR7, karena hal ini justru membuat terciptanya ruang kosong di pertahanan Barcelona.
Gambar 8


0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.