Ok guys, ini
artikel pertama saya di blog ini. Sebenarnya pengen bagi cerita ini di Group
IDFM, tapi mengingat ceritanya bakal paaaanjang banget, makanya cerita ini saya
bagi aja di blog ini.
Sebelum
agan melanjutkan membaca cerita saya ini, perlu saya ingatkan terlebih dahulu
bahwa segala tindakan/keputusan yang saya ambil dalam cerita ini adalah
berdasarkan pemahaman saya sendiri. Tindakan/keputusan ini tidak mutlak untuk
anda jadikan sebagai panduan tetap, namum bisa anda jadikan sebagai panduan sementara
atau tambahan pengetahuan saja.
PENDAHULUAN
Cerita ini
berawal dari kekalahan tim saya (Barcelona FC) di Final Supercopa de Espana
leg-1 melawan Real Madrid. Jika kalah skor tapi permainan bagus sih gak apa-apa
menurut saya, tapi ini udh kalah skor malah kalah dalam segi kualitas permainan
lagi, pusing tujuh keliling saya dibuatnya. Padahal menurut saya taktik yang
udah saya rancang sedemikian rupa adalah taktik andalan yang paling jitu
menurut saya (menurut saya sebelum mendapatkan inspirasi analisa taktik).
Sesaat setelah kalah dari Madrid pada leg-1 saya langsung save game dan keluar
dari game, karena saya udah gak mood buat melanjutkan game...
Keseokan
harinya (siang tepatnya) saya buka laptop dan langsung buka facebook. Saya
langsung melihat-lihat beberapa pemberitahuan terutama pemberitahuan dari grup
kesayangan saya yakni Football Manager Indonesia (IDFM). Setelah melihat-lihat
beberapa postingan yang dibuat oleh beberapa anggota grup, saya tertarik dengan
sebuah link yang dibagikan oleh Mas Ryan Tank yakni sebuah artikel yang
berjudul “Analisis Taktis Dalam Sepak Bola” dari blog yang ditulis oleh Mas Ryan Tank sendiri.
Dari artikel ini saya mendapatkan banyak sekali pelajaran dan mulai memahami
cara menganalisa taktik baik taktik lawan maupun taktik sendiri. Cara menganalisa
taktik seperti ini sudah lama saya cari, tapi baru kali ini dan di blognya Mas
Ryan Tank itulah saya menemukannya (Bila Mas Ryan Tank sempat membaca
artikel saya ini, saya ucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya buat mas Ryan karena telah membuat artikel dengan
tulisan yang bagus yang mebuat saya mendapatkan inspirasi baru).
Berikut saya
kutip sedikit tulisan yang ada dalam artikel tersebut yang membuat saya
menemukan inspirasi baru serta membuat saya jadi makin bersemangat lagi untuk
main FM.
Cara berpikir yang identik bisa dijumpai
dalam sepak bola. Katakan seorang manajer memerlukan data calon lawan. Untuk
itu, ia meminta opposition-analyst (kalau ada) untuk mengumpulkan semua data
yang diperlukan, untuk kemudian dari data yang masuk manajer bisa menentukan
apa saja strategi yang akan digunakannya. Contoh, karena manajer melihat
(berdasarkan masukan opposition-analyst) lawan sangat rentan di lini tengah, ia
memerintahkan anak asuhnya untuk berfokus menyerang melalui zona 8, 11, dan 14,
yang kebetulan kesemuanya merupakan zona yang terletak di tengah. Dengan detail
taktik :
1) Melakukan pressing intensitas tinggi di
zona-zona tersebut saat tim sedang tidak menguasai bola dengan cara
menginstruksikan dua pemain sebagai presser utama terhadap pemegang bola dan
2-3 pemain lain sebagai pressing-cover yang bertugas menutup semua jalur umpan
yang ada.
2) Setiap kali berhasil merebut bola, fokus
serangan berfokus ke poros tengah dengan cara 4 pemain menciptakan formasi mini
berlian untuk mendukung progresi bola yang “bersih”. Formasi berlian didukung
oleh masing-masing 1 pemain di kedua sisi sayap (di luar formasi berlian) yang
bergerak maju secepatnya untuk memecah kompaksi horisontal lawan dengan harapan
lawan meninggalkan ruang yang lebih besar di area tengah.
3) Penyerang diminta ikut dalam fase satu
sampai dengan tiga serangan dan berperan sebagai pemain terdepan dari formasi
mini berlian tadi. Sementara satu gelandang berperan sebagai nomor 6 dan dua
pemain lainnya berada pada masing-masing sisi kiri dan kanan dari formasi mini
berlian.
Dari penggalan
artikel ini saya baru menyadari bahwa area tengah lapangan permainan adalah
area yang krusial. Maaf, bukannya saya ingin mengatakan bahwa area lain tidak
penting, namun setelah saya analisa bahwa jika area tengah kita tidak kuat,
jumlah pemain kita di area tengah kalah jumlah dari pemain lawan, meski kita
memiliki bek dan kiper tangguh, kita bakal kebobolan, pertahanan kita mudah
untuk diobrak-abrik oleh lawan (ini juga berdasarkan pengalaman saya selama
main FM). Dari point 1 pada penggalan artikel di atas saya mulai paham bahwa
setelah kita mendapatkan laporan tentang analisis taktik lawan, kita akan
mengetahui pemain mana saja yang harusnya mendapatkan perhatian khusus untuk
diberikan pressing yang ketat dan tidak. Begitu pula menentukan pemain kita yang
mana saja yang perlu diaktifkan instruksi clossing down more (pada players
instructions) sebagai pressur utama dan mana yang perlu diaktifkan close down
less untuk dijadikan sebagai pressing cover yang tujuannya adalah agar formasi
kita tidak mudah diacak-acak oleh pemain lawan (yang dalam hal ini anda akan
temukan saat menonton pertandingan bahwa pemain anda tidak semua muda
terpancing untuk dibawa keluar dari posisinya oleh pemain lawan sehingga
menimbulkan ruang kosong untuk dieksploitasi oleh lawan). Dari point 2 saya
sangat tertarik sekali dengan istilah “formasi mini berlian” yang disebutkan
oleh Mas Ryan dalam artikel tersebut. Sehingga saya mulai berfikir untuk
menjadikan pola ini sebagai dasar dari setiap taktik saya. Penjabaran tentang
point 2 dan 3 ini akan saya jelaskan lebih lanjut pada cerita saat akan membuat
taktik (bag-2 dari artikel ini).
Setelah
membaca artikel tersebut, saya melanjutkan membaca artikel (masih di blognya
Mas Ryan Tank) dengan judul “RBS 3-0 FC Bayern : Analisa Sistem Permainan RogerSchmidt” yang berikut saya kutip sebagian kecil dari tulisannya yang
menispirasi saya :
Opsi lain, seperti yang diperlihatkan
Schmidt, menarik satu dari duo penyerang untuk mengisi pos nomor 10 dan
bertransformasi ke pola 4-2-3-1. Ini ditujukan untuk mengamankan lini tengah,
mengisi ruang di antara strata gelandang dan penyerang. Kedua penyerang RBS,
memiliki tugas yang sedikit berbeda. Dalam fase bertahan dan transisinya, salah
satu dari duo penyerangnya, seperti yang saya jelaskan di atas, lebih banyak
terlibat di lini tengah. Beberapa kali dalam partai ini, ia swap position dengan
Sadio Mane (LM). Sementara Jonathan Soriano, striker lainnya, banyak
difungsikan sebagai penyerang yang stay forward dan memberikan pressing pada
lini belakang Bayern.
Dari penggalan
artikel ini saya mendapatkan inspirasi menjadikan striker saya sebagai bagian
dari formasi mini berlian (seperti yang disebutkan dalam penggalan artikel
pertama di atas), menjadikannya sebagai salah satu pressur utama dan membuatnya
menjadi pemain yang memancing bek lawan untuk keluar dari posisi mereka. Lebih
lanjut lagi akan saya jelaskan secara rinci pada bagian 2 artikel ini.
Lalu saya
mencoba browsing lagi beberapa artikel yang natara lainnya “Taktik Imitasi Jerman Gulingkan Italia” oleh Mas Ganesha Putera.
Dari artikel ini saya belajar bahwa menentukan taktik itu harus diseimbangkan
dengan taktik lawan kita. Seperti halnya yang dilakukan oleh Joachim Low
menjiplak taktik Italia. Saya berikan contoh untuk anda agar lebih paham lagi
apa sebenarnya yang saya dapatkan dari artikel tersebut. Misalnya lawan yang
akan anda hadapi menggunakan formasi 4-2 DM-3-1, yang berarti lawan menempatkan
3 pemainnya untuk menguasai zona 5, 8, dan 11. Untuk mengimbangi formasi ini
baiknya anda juga menempatkan minimal 3 orang pemain anda untuk mengisi sektor
tengah. Mengingat lawan kita menempatkan pemain di posisi AMC, ini bearti anda
harus mengimbanginya dengan menempatkan minimal 1 pemain pada posisi DM. Dan melihat
lawan anda menempatkan 2 pemain pada posisi DM, maka sebaiknya kita menghindari
menempatkan pemain pada posisi ini dengan tujuan menghindari pemain kita
terisolir serta menghindari kedua pemain lawan pada posisi tersebut tidak
keluar dari posisinya sehingga untuk menciptakan ruang di area ini menjadi
sulit. Cara yang dapat dilakukan adalah menempatkan minimal 2 pemain dengan
visi yang bagus pada posisi MC sebagai pembagi bola dengan duty support agar
para pemain ini tidak terburu-buru untuk memasuki pertahanan lawan dengan
tujuan memancing kedua DM lawan untuk melakukan pressing dan meninggalkan
posisi sehingga akan tercipta ruang yang dapat kita eksploitasi. Kira-kira
seperti itulah pemahaman saya hasil dari membaca artikel tersebut.
MENGANALISA
TAKTIK
Setelah
mendapatkan inspirasi dari beberapa artikel yang saya baca tersebut di atas,
keesokan harinya barulah saya melanjutkan save-an saya. Saya mulai merancang
taktik sesuai dengan inspirasi yang saya sudah dapatkan kemarin dari beberapa
artikel yang saya baca.
Sebelum
melanjutkan pertandingan leg-2 Final Supercopa de Espana melawan Madrid, saya
masih diperhadapkan dengan Valencia pada laga awal di musim ketiga La Liga
Spanyol (musim 2016-2017). Saya berfikir untuk melakukan sedikit demonstrasi
penerapan taktik hasil inspirasi yang saya dapatkan dari beberapa artikel yang
sudah saya baca. Hasil dari pertandingan melawan Valencia berakhir dengan skor
kaca mata 0-0. Meski begitu saya tetap puas dengan permainan tim, karena
permainan tim mengalami perubahan yang sangat besar. Para pemain tidak bisa
mencetak gol dikarenakan faktor ketidak beruntungan semata.
Setelah
melakoni laga ini, saya mencoba menganalisa kembali cuplikan pertandingan
melawan Madrid pada leg-1 Final Supercopa de Espana sebagai langkah awal
mempersiapkan taktik melawan Madrid di Camp Nou. Berikut beberapa analisa
pertandingan hasil leg-1 :
1. Di leg pertama saya meggunakan formasi 4-1DM-2-3,
begitu pula dengan Madrid. Namun dalam hal ini saya baru menyadari telah salah
dalam memberikan role kepada 3 gelandang dan 2 bek sayap saya. 3 gelandang yang
terdiri dari 1 DM yang saya beri role Half Back-defend dan 2 MC yang saya beri
role Box to box-support dan Attacking Playmaker-Attack menghadapi 3 gelandang
Madrid yang memiliki role DM-D – BWM-S – CM-S. Sudah kebayangkah bagi anda
bagaimana akan hancurnya formasi di sektor tengah Barcelona? Posisi DM dengan
role HB-Defend terlalu berlebihan mengingat Madrid hanya menggunakan 1 striker
dan tanpa AMC (anda pasti ingat pertemuan antara Spanyol dan Italy di Euro
kemarin? Anda ingat bagaimana seorang Busquet bermain pada posisi tanpa menjaga
pemain manapun?) seperti itulah pula S. Busquet yang saya main pada posisi ini.
Kemudian kombinasi role AP-A dengan B2B-S sebenarnya cukup bagus, sayangnya
tidak didukung oleh keberadaan pemain pada posisi DM untuk membentuk formasi
segitiga atau formasi mini berlian bersama striker. Sementara itu pada
pertandingan ini saya memberikan role CWB-S kepada kedua bek sayap, dengan
tujuan mendorong kedua pemain sayap (AMR dan AML) Madrid ke dalam pertahanan
mereka. Sayangnya cara ini justru membuat kedua pemain sayap Madrid lebih
leluasa dalam menyerang dan memanfaatkan ruang kosong yang ditinggalkan oleh
kedua bek sayap Barcelona. Pada gambar 1 di bawah ini, anda dapat melihat
bagaimana sulitnya pemain tengah Barcelona berkreasi di lapangan tengah
menghadapi pemain tengah Madrid yang sangat solid menjaga daerahnya
masing-masing. Anda perhatikan pula tanda/garis merah yang merupakan jarak
antar pemain tengah dengan striker yang tidak membentuk formasi mini berlian dengan
baik. Kemudian anda lihat pula pada gambar nomor 2 bagaimana bentuk formasi
pemain tengah Madrid yang dibantu oleh CR7 membantuk formasi mini berlian dan
menjadikan posisi di lapangan tengah 1 vs 1 plus Ilaramendi (DM) yang bebas
tanpa mengawal siapapun. Meskipun telah dibantu oleh 2 bek sayap yang sudah
mengambil posisi melebar, tetap saja upaya ini tidak membantu untuk membongkar
prtahanan Madrid yang sangat solid. Dari sini saya baru menyadari betapa
bodohnya saya yang hanya asal-asalan dalam memberikan role kepada pemain.
Mungkin dari segi penyerangan cukup membantu, namun cukup rentan dari serangan
balik lawan. Namun apalah dikata, nasi telah menjadi bubur. Saya hanya berusaha
memperbaiki apa yang telah menjadi kesalahan saya, dan dari kekalahan ini pula
saya bisa menyadari kesalahan saya.
2. Pada gambar 3 di bawah ini Barcelona sempat mendapatkan
peluang emas di awal-awal babak pertama melalui pergerakan L. Suarez yang bergerak
ke tengah memberikan umpan kepada S. Roberto yang berdiri tanpa pengawalan,
kemudian meneruskan umpan kepada Munir yang telah berdiri bebas memanfaatkan
ruang kosong yang tercipta, sayang tendangan Munir melayang di atas mistar
gawang Madrid.
![]() |
| Gambar 3 |
3. Berawal dari sebuah serangan Barcelona yang
berhasil dipatahkan oleh pemain belakang Madrid, Sergio Ramos langsung
memberikan umpan panjang kepada CR7. Awalnya terlihat bola mudah untuk
diantisipasi oleh Mascherano, Mascherano bermaksud menyundul bola ke arah
belakang kepada Ter Stegen, namun sayang sundulannya terlalu lemah dan jatuh di
dekat CR7 yang sedari tadi beradu sprint dengan Mascherano (lihat gambar 4 dan 5). Pada
gambar 6 CR7 yang tinggal berhadap-hadapan 1 vs 1 (one on one) dengan Ter
Stegen menendang bola ke sudut kanan gawang Ter Stegen. Gol tercipta, 1-0 untuk
Madrid. Setelah melihat cuplikan gol ini saya mulai menyadari bahwa tim saya
bermain dengan blok pertahanan yang sangat tinggi. Hal ini tidak sempat
terpikirkan oleh saya bahwa kedua CB saya kalah speed dari seorang CR7. Sungguh
ini adalah kebodohan kedua saya yang baru saya sadari.
![]() |
| Gambar 4 |
![]() |
| Gambar 5 |
![]() |
| Gambar 6 |
4. Pada gambar 7 bisa anda lihat bagaimana dengan
mudahnya para gelandang tengah Madrid dalam melepaskan umpan dan berhasil
menguasai zona 5 pertahanan Barcelona di babak kedua. Dan lihat pula bagaimana
dengan mudahnya seorang CR7 bisa menemukan ruang diantara penjagaan Pique dan
Mascherano. Setelah melihat cuplikan gol ini saya baru menyadari bahwa di
awal-awal babak pertama Assisten saya sempat menyarankan kepada saya untuk
menugaskan salah satu pemain melakukan marking kepada CR7. Awalnya saya tidak
merespon saran tersebut, namun karena saya melihat bagaimana CR7 sempat membuat
pertahanan kami mulai kacau, akhirnya saya merespon saran ini dan memberikan
tugas tersebut kepada Gerard Pique. Alhasil malah menyebabkan pertahanan makin
mudah untuk terpancing membuat ruang kosong yang mudah dieksploitasi. Lihat
proses gol pertama pada gambar 4 di atas, meski sudah mengaktifkan marking man
to man kepada CR7, CR7 tetap tidak terjaga oleh Pique karena CR7 berusaha
menghidari Pique dan berusaha bertarung dengan Mascherano yang disadarinya
kalah speed. Hal ini belum saya sadari di babak pertama. Sehingga memasuki
babak kedua pun saya belum menyadarinya dan tugas tersebut masih saya berikan
kepada Pique untuk menjaga ketat CR7. Ini adalah kebodohan saya yang ketiga.
![]() |
| Gambar 7 |
5. Barcelona sempat membuka harapan dengan mencetak
gol untuk memperkecil ketertinggalan mereka melalui sepakan keras J. Alba dari
luar kotak penalti hasil umpan S. Roberto. Tendangan keras Alba sempat ditepis
oleh Iker Casillas dan bola jatuh di samping kanan gawang Madrid, Alba
melepaskan tendangan keduanya memanfaatkan bola rebound tersebut tanpa mampu
dihalangi oleh Casillas. Skor 2-1 masih untuk kemenangan Madrid. (Maaf proses
golnya tidak sempat di screenshots).
6. Pada gambar 8, Erik Lamela yang berposisi
sebagai AMR bergerak memasuki tengah. Kross mengarahkan bola kepada Erik Lamela
yang dengan cepat dengan sedikit sentuhan saja bola dilepaskan mengarah ke
ruang kosong antara Pique dan Mascherano. CR7 bergerak menyambut bola dan
melakukan tendangan terarah ke sudut kiri atas gawang Ter Stegen. 3-1 untuk
kemenangan Madrid, dan hasil ini bertahan hingga akhir babak kedua. Pada gol
ketiga ini saya baru menyadari kesalahan saya yang menugaskan Pique untuk
melakukan tight marking kepada CR7, karena hal ini justru membuat terciptanya
ruang kosong di pertahanan Barcelona.
![]() |
| Gambar 8 |
Bersambung ke bag-2.
Sumber referensi dibuatnya artikel ini :
https://www.facebook.com/groups/364775096957512/







0 komentar: