Sidebar One

Pages

Kamis, 22 September 2016

Belajar Dari Kesalahan Untuk Ciptakan Taktik Yang Jitu

by Noval Yhan  |  in Taktik at  09.06

Sebelum agan melanjutkan membaca cerita saya ini, perlu saya ingatkan terlebih dahulu bahwa segala tindakan/keputusan yang saya ambil dalam tulisan ini adalah berdasarkan pemahaman saya sendiri. Tindakan/keputusan ini tidak mutlak untuk anda jadikan sebagai panduan tetap, namum bisa anda jadikan sebagai panduan sementara atau tambahan pengetahuan saja.


Ok, guys...kali ini saya akan sedikit berbagi taktik di FM15. Namun untuk kali ini saya akan sedikit mengulasnya dalam bentuk analisa taktik. Atau lebih tepatnya lagi, apa yang akan saya bagikan ini adalah tentang pola pikir saya dalam meramu sebuah taktik. Jadi, yang saya harapkan nantinya adalah, setelah anda membaca postingan saya kali ini anda akan memiliki inspirasi baru dan memiliki atau membentuk pola pikir sendiri.

Untuk postingan kali ini saya membahas taktik yang hampir sama dengan taktik yang saya pakai bersama Barcelona di postingan saya yang sebelumnya. Tapi untuk taktik yang satu ini sedikit berbeda, karena lebih spesifik lagi strateginya. Dan klub yang saya asuh kali ini adalah Arsenal. Lho, koq Arsenal? Kan kemarin waktu posting pakainya Barcelona. Gini ceritanya gan, setelah saya berhasil menemukan taktik jitu sebagaimana yang saya ceritakan dalam postingan saya terdahulu (bisa dibaca di sinibermain di La Liga (Liga Spanyol) mulai terlihat sangat mudah. Bahkan pertemuan dengan Real Madrid kembali dalam pertandingan di La Liga yang bertajuk El Classico ke-3 di musim ke-3, Real Madrid saya paksa menyerah 5-0 tanpa perlawanan yang berarti. Setelah pertandingan itupun, belum ada satupun tim yang mampu menghentikan laju Barcelona. Bahkan dalam 7 pertandingan terakhir gawang Barcelona tak satupun yang mampu menembusnya. Inilah yang kemudian membuat saya mulai bosan dan akhirnya memilih untuk membuat sebuah save-an baru bersama Arsenal.

Lalu kenapa Arsenal menjadi tim yang harus saya pilih? Selama menangani Barcelona, ada 2 pemain yang menjadi pemain kunci saya selama menangani klub Catalan tersebut. Pertama, Sergio Busquet, pemain yang satu ini sangatlah sulit mencari pemain yang cara bermainnya sama seperti dia. Memiliki kesadaran ruang yang sangat tinggi dan memiliki mental yang sangat kuat. Kedua, adalah Lionel Messi, seorang penyerang bertipe playmaker memiliki skill yang sangat super. Mencari tipe pemain seperti mereka inilah yang cukup sulit. Namun di Arsenal saya melihat ada 2 pemain yang memiliki karakter bermain hampir mirip dengan Busquet dan Messi. Mikel Arteta merupakan pemain yang hampir mirip dengan karakter Busquet, namun dalam hal jika pemain ini saya plot ke role Regista-Support atau Deep Lying Playmaker-defend di posisi defender midfield (DM). Sementara untuk karakter Messi saya memilih Mesut Ozil yang memiliki karakter yang mirip dari segi peran sebagai playmaker (bukan sebagai tipe penyerang). Namun yang masih kurang dari Arsenal ini adalah penjaga gawang yang tidak memiliki tipe Sweeper Keeper (SK) serta tidak adanya striker yang dapat diberikan tugas sebagai #9 (Flase 9) yang menjadi kurang maksimalnya saya untuk mewujudkan filosofi Juego de Posicion (JDP) di Arsenal. Namun semua itu membutuhkan waktu dan proses. Untuk mewujudkan karakter Busquet dan Lionel Messi pada diri Arteta dan Ozil pun masih membutuhkan waktu.

Ketika diawal-awal memilih formasi dasar yang tepat yang harus disesuaikan dengan skuad yang ada, saya masih sedikit bingung. Namun pada akhirnya saya memilih formasi 4-1-2-2-1 (4-3-3 DM Wide) sebagai formasi dasar Arsenal untuk musim pertama ini. Alasannya adalah, saya ingin mencoba karakter Mikel Arteta yang saya anggap cukup bisa memerankan karakter Busquet seperti halnya yang saya mainkan di Barcelona. Begitu pula dengan Ozil, saya ingin membuktikan bahwa dia pantas untuk disamakan dengan Lionel Messi, namun jika dinilai sebagai seorang playmaker.

Memainkan pertandingan pra musim, semuanya terlihat lancar, meski untuk peran False 9 masih kurang optimal baik itu diperankan kepada Oliver Giroud maupun Danny Welbeck. Namun saya sudah cukup puas dengan kinerja para pemain yang semakin menunjukkan perubahan yang cukup besar.

Liga Inggris (Premiere League) pun akan segera dimulai yang diawali dengan pertandingan pembuka antara Manchester City vs Arsenal dalam  tajuk English Comunity Shield. Sebelum pertandingan, seperti biasa, opposition analyst akan menyajikan data mengenai calon lawan yang akan saya hadapi, serta memberikan saran untuk menetapkan fokus latihan lebih ke posisi bertahan. Namun, satu hal yang membuat saya berani mengambil sebuah keputusan menetapkan fokus latihan untuk posisi menyerang adalah formasi yang digunakan oleh Manchester City dalam beberapa pertandingan terakhir adalah menggunakan formasi 4-4-2 klasik. Sebuah blunder saya lakukan dalam membuat taktik untuk melawan City dalam pertandingan ini. Sebuah taktik yang dari dulu ingin saya wujudkan, yakni taktik 4-4-2 Diamond Narrow yang pernah dipertunjukkan oleh Carlo Anchelotti sewaktu masih menangani AC Milan dahulu, membuat saya penasaran ingin mewujudkannya bersama Arsenal. Kebetulan juga Arsenal memiliki skuad yang mirip dengan skuad yang pernah dimiliki oleh Don Carlo di AC Milan. Sehingga itulah saya memilih menyusun formasi dalam bentuk 4-4-2 Diamond Narrow. Kenapa saya memilih formasi ini untuk melawan formasi Manchester City yang dilaporkan akan menggunakan 4-4-2 klasik, adalah keberadaan pemain pada posisi AMC yang juga merupakan ujung terdepan dari formasi berlian adalah alasan utama saya untuk memilih formasi ini. Saya berharap pemain pada posisi AMC ini nantinya yang akan menjadi pemain kunci untuk mengobrak-abrik pertahan The Cityzen di barisan tengah. Namun siapa sangka, keteledoran saya dalam menentukan taktik ini menjadi blunder pertama bagi saya musim ini. Blunder yang saya maksud adalah formasi 4-4-2 diamond narrow ini belum pernah saya coba sebelumnya dalam pertandingan pra musim, karena dalam pertandingan pra musim kemarin saya hanya menggunakan 1 formasi saja yakni 4-1-2-2-1. Meski dengan setingan Team Instructions yang sama, tetap saja ini berpengaruh pada pemahaman para pemain untuk beradaptasi dengan formasi yang baru. Dan dalam laga ini, saya kalah dengan skor 3-2.

Sedikit saya ceritakan mengenai laga ini yang berhasil saya analisa setelah pertandingan berakhir. The Cityzen yang awalnya saya pikir akan menggunakan formasi 4-4-2 klasik, ternyata menggunakan formasi 4-4-1-1 dengan Aguero sebagai striker tunggal berperan sebagai Trequartista berada di depan Samir Nasri di posisi AMC sebagai Attacking Midfielder-support, yang dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.

Preview Line Ups Manchester City vs Arsenal

Keberadaan Mikel Arteta di posisi DM yang waktu itu saya berikan peran sebagai DLP-defend, membuat saya cukup aman untuk mengganggu peran Samir Nasri. Dimenit-menit awal babak pertama kami unggul lebih dahulu dari sebuah skema sepak pojok. Namun setelah gol pertama tersebut, permainan Manchester City mulai sangat sulit untuk ditebak. Pergerakan Aguero dan Samir Nasri membuat Mikel Arteta dan kedua CB Arsenal makin kebingungan untuk menentukan siapa yang harusnya pendapatkan penjagaan ketat. Pergerakan keduanya memaksa pemain belakang Asenal terkecoh untuk melakukan pressing ketat kepada Sergio Aguero, sehingga dengan mudahnya Samir Nasri bergerak untuk menyarangkan 2 gol ke gawang Arsenal. Bahkan gol Yaya Toure pun tak luput dari peran kedua pemain ini yang berhasil memancing para pemain belakang untuk keluar dari pertahanan mereka.

Dibabak kedua saya benar-benar memutar otak untuk mengimbangi taktik Manchester City yang cukup membuat saya bingung ini. Melihat pergerakan Samir Nasri yang saya anggap sebagai otak dari permainan ini membuat saya melakukan pertukaran posisi antara Mikel Arteta (DM) dengan Flamini (MCL). Flamini saya berikan role DM-defend dengan fokus penjagaan kepada Samir Nasri, sementara Mikel Arteta saya berikan peran DLP-support di posisi MCL. Alhasil, cara ini berhasil meredam serangan Manchester City. Samir Nasri tidak memperoleh sedikitpun ruang gerak karena selalu ditempel ketat oleh Flamini. Sementara Sergio Aguero mulai mati kutu berada di depan karena kurang mendapatkan suplai bola. Namun sangat disayangkan, Arsenal hingga akhir babak kedua hanya mampu menyarangkan 1 gol tambahan saja.

Dan dipertandingan pertama di kancah Premiere League, Arsenal dijamu oleh Leichester City. Tampil percaya diri karena The Fox merupakan salah satu lawan yang terbilang cukup mudah, membuat saya menggunakan formasi yang sama (4-4-2 diamond narrow) melawan formasi 4-5-1 The Fox. Dan ini menjadi blunder kedua saya musim ini. Arsenal pun dikalahkan oleh The Fox dengan skor 2-1.

Berangkat dari kekalahan beruntun ini membuat saya berusaha bangkit dan tidak ingin jatuh di lubang yang sama lagi. Setelah berhasil memenangkan leg pertama kualifikasi liga champion melawan Standard Liege (3-0) saya mulai melakukan analisa taktik Arsenal dalam 2 pertandingan sebelumnya melawan The Cityzen dan The Fox. Dua hal yang berhasil saya gali dimana ini merupakan salah satu penyebab bobroknya strategi yang saya rancang adalah pergerakan pemain di lini tengah. Terlalu aktif dalam menyerang serta tidak ikut berperannya kedua striker dalam fase bertahan membuat lini tengah Arsenal menciptakan area terbuka untuk dieksploitasi. Ditambah lagi dengan pemain pada posisi WBR dan WBL yang saya ikut perintahkan untuk lebih banyak terlibat dalam membantu serangan (instruksi get further forward pada instruksi player dan instruksi look for overlap pada intruksi tim) malah semakin membuat pertahanan Arsenal rentan oleh serangan balik cepat.

Dari sinilah akhirnya saya teringat lagi akan taktik yang pernah saya buat di Barcelona ketika menghajar Real Madrid. Strategi yang saya buat tidak jauh berbeda dengan apa yang pernah saya terapkan di Barcelona. Agar kalian lebih mudah memahami apa yang ingin saya terapkan kali ini, baiknya saya memberitahu terlebih dahulu bagaimana pola pikir saya, atau dengan kata lain apa yang nantinya saya harapkan dari taktik yang akan saya buat.

Seperti halnya yang saya buat di Barcelona ketika akan menghadapi Real Madrid yang jelas-jelas menurut saya akan menggunakan strategi serangan balik cepat, saya memutuskan membuat kombinasi role untuk pemain tengah yang tidak terlalu agresif untuk menyerang.

Pola pikir dan tujuan dari strategi yang akan saya buat adalah seperti ini :

Trio gelandang saya (DM, MCR, dan MCL) akan saya buat tidak terlalu agresif dalam menyerang. Memposisikan mereka sedikit lebih dalam ditambah dengan memberikan instruksi shoot more often pada pemain di posisi MCR tentunya akan memancing pemain lawan untuk melakukan pressing guna menutup baik ruang gerak maupun ruang tembak mereka.

Pemain pada posisi ST yang nantinya akan diisi oleh Oliver Giroud sebagai starter, akan difungsikan memberikan pressing kepada pemain belakang lawan sekaligus sebagai pengalih perhatian.

- Upaya trio gelandang tengah Arsenal untuk memancing pressing gelandang tengah lawan serta upaya striker untuk memberikan tekanan kepada barisan belakang lawan, akan membuat sebuah area kosong antara barisan belakang dan barisan pemain tengah lawan. Area kosong ini nantinya akan dieksploitasi oleh pemain Arsenal pada posisi AMR atau AML melalui pergerakan memotong bola ke area tengah kemudian melepaskan tembakan ke arah gawang untuk menciptakan gol.

Apabila upaya gelandang tengah Arsenal dalam memancing pressing dari gelandang tengah lawan tidak berhasil, maka gelandang tengah Arsenal akan lebih leluasa dalam mencari ruang gerak serta ruang tembak.

Untuk mewujudkan 4 tujuan di atas, maka saya membuat kombinasi role seperti yang anda lihat pada gambar-gambar di bawah ini.

Tactic & Player Instructions

Team Instructions

Anda ingin melihat seperti apa hasil penerapannya?

Babak Pertama

Dibabak pertama, para pemain West Ham berusaha memberikan pressing kepada beberapa pemain Arsenal, terutama para gelandang tengah. Namun pressing yang dilakukan oleh West Ham tidak terlalu ketat, sehingga trio gelandang tengah Arsenal masih leluasa dalam mencari ruang gerak. Trio Gelandang tengah Arsenal (Arteta, Cazorla, dan Wilshere) selalu membuat pola segi tiga untuk tetap menjaga sirkulasi bola yang bersih, seperti yang dapat anda lihat pada gambar di bawah ini.


Dari gambar di atas, dapat kita lihat bahwa pola segi tiga yang dibentuk oleh trio gelandang Arsenal merupakan salah satu konsep dari filosofi JDP ala Pep Guardiola untuk tujuan menciptakan superioritas jumlah dan sirkulasi bola yang bersih. Peran Arteta yang seperti sebelumnya diawal tulisan ini telah saya jelaskan bahwa pemain ini akan saya berikan peran seperti halnya peran Busquet di Barcelona, nampak menjalankan tugasnya dengan baik. Kesadaran mencari ruang untuk membantu rekan setimnya dalam memberikan opsi umpan terlihat sama persis dengan cara bermain Busquet.

Sementara itu, tujuan saya untuk memancing presing lawan guna menciptakan area kosong antara barisan belakang lawan dan barisan tengah sehingga area ini dapat dieksploitasi oleh pemain pada posisi AMR maupun AML ternyata berhasil saya wujudkan. Gambar dan video di bawah ini menunjukkan bagaimana strategi itu berjalan dengan cukup baik.

Eksploitasi ruang


Setelah berhasil mematahkan serangan yang dibangun oleh West Ham, para pemain Arsenal berusaha membuat serangan dari barisan belakang. Upaya memancing pressing lawan nampak berhasil saat bola berada di kaki Jack Wilshere. Jack Wilshere dengan sengaja menahan bola beberapa detik di kakinya untuk memancing pressing dari gelandang tengah kanan (MCR) West Ham Julio Baptista. Julio Baptista yang terpancing untuk melakukan pressing ke arah Wilshere meninggalkan celah vertikal di belakangnya. Hal ini dengan cepat diantisipasi oleh Wilshere dengan mengarahkan bola ke area tersebut dimana Alex Chamberlain bersiap untuk mengeksploitasinya. Namun sangat disayangkan, upaya Chamberlain melakukan drible hingga area kotak penalti gagal dan berhasil dihadang oleh barisan belakang West Ham. Upaya seperti ini banyak terjadi, baik Chamberlain maupun Walcott yang silih berganti melakukan upaya ini masih gagal untuk mengarahkan tembakan ke arah gawang West Ham.

Gol Arsenal dibabak pertama berhasil diciptakan oleh Oliver Giroud melalui skema sepak pojok. Adalah Walcott yang berhasil melakukan dribling ke area kotak penalti lalu melepaskan umpan pendek kepada Giroud yang berdiri di depan gawang. Dan dengan satu sontekan, Giroud berhasil menipu kiper West Ham.

Babak Kedua

Saya tidak banyak membuat perubahan taktik mengingat strategi yang saya jalankan dibabak pertama berjalan cukup bagus meski masih kurang maksimal. Melihat penampilan Alex Chamberlain yang kurang maksimal dalam menjalankan strategi yang saya buat, membuat saya memasukkan Alexis Sanchez dibabak kedua menggantikan Chamberlain.

Dibabak kedua, West Ham mulai memperketat pressing dan penjagaan mereka terhadap beberapa pemain tengah Arsenal. Seperti yang nampak pada gambar di bawah ini, pemain sayap kanan (MR) West Ham Morgan Amalfitano mulai diperintahkan untuk masuk ke area tengah membantu Julio Baptista (MCR) melakukan pressing kepada Jack Wilshere. Hal ini dimaksudkan untuk mengimbangi upaya overload posisi di area tengah oleh Arsenal, sehingga kondisi 3 vs 2 yang terjadi dibabak pertama sebelumnya menjadi 3 vs 3 dibabak kedua dengan masuknya Amalfitano di area tengah. Sementara itu, Santi Cazorla nampak dimarking secara ketat oleh Alex Song mengingat sebelumnya dibabak pertama Cazorla beberapa kali mendapatkan ruang tembak yang cukup ideal untuk mengancam gawang West Ham. Sirkulasi bola Arsenal mulai terhambat dengan situasi ini. Pemain belakang bahkan Arteta pun mulai melepaskan umpan panjang langsung kepada Giroud.



Tak ingin tertekan, pemain-pemain Arsenal menunjukkan kreatifitas mereka. Upaya untuk mengalihkan perhatian lawan dengan memancing pressing lawan mulai memainkan umpan-umpan kombinasi. Ingat dengan permainan Bayern Muenchen sewaktu masih dilatih oleh Pep Guardiola? Dimana para pemain Bayern berusaha melakukan oveload posisi pada satu area memancing pemain lawan untuk masuk ke area tersebut, kemudian memindahkan bola dengan cepat ke sisi yang lain. Gambar dan video di bawah ini menunjukkan aksi tersebut




Jack Wilshere dan Arteta berusaha memancing pressing dari Amalfitano dan Julio Baptista. Setelah Amalfitano dan Julio Baptista masuk dalam perangkap yang dibuat oleh Arteta dan Wilshere, Arteta dengan cepat memindahkan bola ke sisi kiri dimana Kieran Gibbs mulai mengeksploitasi sisi kiri ini untuk kemudian melepaskan umpan crosing ke area kotak penalti. Sayangnya upaya untuk menciptakan gol dari aksi ini masih bisa digagalkan oleh rapatnya barisan pertahanan West Ham.


Eksploitasi ruang oleh Alexis Sanchez

Upaya Alexis Sanchez untuk mewujudkan rencana saya mengeksploitasi area kosong antara barisan pertahanan dan barisan tengah West Ham hampir saja membuahkan hasil. Alexis Sanchez berusaha menggiring bola dari sisi kiri (sisi kanan pertahanan West Ham) yang terus dikawal oleh bek kanan West Ham. Pergerakan Sanchez juga diikuti oleh Theo Walcott yang berusaha masuk dan menempati half space kiri pertahanan West Ham dan Debuchy yang bergerak di sayap kanan mencoba membuka jalur umpan baru. Pada saat mendekati kotak penalti, Sanchez sebenarnya memiliki 3 opsi yang bisa dipilihnya. Opsi pertama adalah melakukan shot ke arah gawang. Opsi kedua adalah memberikan umpan terobosan kepada Walcott yang sudah menempati half space dengan sedikit resiko dapat dipotong oleh Stewart Downing yang menutup jalur umpan kepada Walcott, serta opsi ketiga adalah memberikan umpan kepada Debuchy ke sayap kanan. Namun dalam hal ini Sanchez lebih memilih opsi pertama, tendangan keras Sanchez ke arah sudut kiri bawah gawang Adrian masih bisa ditepis oleh Adrian.

Aksinya dapat anda saksikan pada video di bawah ini.





Dalam sebuah kesempatan, Theo Walcott berupaya mengeksploitasi area kosong dengan sambil berupaya membangun kerja sama dengan Oliver Giroud untuk memainkan umpan satu dua. Sayangnya Oliver Giroud sepertinya tidak mengerti dengan maksud Theo Walcott meski telah berusaha mencari ruang disebelah kiri setelah melepaskan umpan kepada Giroud. Giroud yang masih menahan bola di kakinya, bola berhasil direbut oleh pemain belakang West Ham kemudian bola dibuang keluar dari area kotak penalti untuk mengamankan gawang mereka.




Meski telah unggul 2-0, saya belum merasa puas atas pencapaian yang dicapai saat ini. Saya masih sangat penasaran dengan strategi yang saya buat. Semua pemain nampak telah mengeluarkan segenap kemampuan mereka untuk memaksimalkan strategi saya. Akhirnya di menit 70 saya mencoba melakukan tweak taktik, saya meminta kepada semua pemain untuk meningkatkan tempo permainan, mengubah mental tim menjadi lebih menyerang serta mengganti Jack Wilshere dan memasukkan Tomas Rosicky. Jack Wilshere memang tidak bermain buruk, namun saya membutuhkan pemain yang masih fit memanfaatkan stamina pemain-pemain West Ham yang mulai turun. Alasan lain saya memilih Tomas Rosicky untuk menggantikan Wilshere adalah Rosicky memiliki atribut long shot yang lebih baik dari Wilshere. Keluarnya Wilshere membuat Morgan Amalfitano lebih fokus mengamankan sisi kanan mengawasi pergerakan Kieran Gibbs. Hal ini berpengaruh pada mudahnya Rosicky mencari ruang di area tengah.

Tak membutuhkan waktu lama bagi Rosicky untuk mencoba memaksimalkan/mewujudkan strategi saya. Sepuluh menit berselang setelah dia masuk menggantikan Wilshere, Rosicky mencetak gol ketiga bagi Arsenal melalui sebuah skema serangan yang sangat baik.



Arteta yang dari awal pertandingan mendapatkan tugas sebagai playmaker, benar-benar sangat jenius dalam proses gol ketiga Arsenal ini. Dalam sebuah kesempatan dimana Arteta memiliki dua opsi untuk memulai serangan, Arteta lebih memilih opsi yang cukup beresiko. dapat kita lihat pada gambar di atas, dimana opsi yang lebih aman yang dapat Arteta pilih adalah melepaskan umpan horizontal kepada Rosicky di sisi kirinya untuk mengeksploitasi celah horizontal di depan Rosicky. Namun Arteta lebih memilih melepaskan umpan lambung kepada Giroud di depannya. Opsi ini terlihat sedikit beresiko karena umpan yang dilepaskan bisa saja dapat diantisipasi oleh Julio Baptista. Namun, disinilah kejeniusan seorang Arteta, opsi yang dipilihnya ini ditujukan untuk memberikan kesempatan kepada Rosicky untuk bisa mencari posisi yang lebih baik. Ditambah lagi dengan peran Giroud yang sedikit memainkan bola menunggu  kesempatan terbukanya celah horizontal antara bek tengah West Ham sebagai ruang tembak Rosicky. Setelah memastikan Rosicky telah berada pada posisi yang tepat, Giroud melepaskan sebuah umpan horizontal mendatar kepada Rosicky yang ada di sisi kirinya. Rosicky sedikit mengontrol bola kemudian melepaskan tembakan keras terarah ke sudut kiri bawah gawang Adrian yang tak mampu dihalau oleh Adrian. Sebuah gol yang sangat indah menghapus kekecewaan saya atas ketidak mampuan pemain memaksimalkan setiap peluang yang mereka miliki.

Proses gol ketiga ini dapat anda saksikan pada video di bawah ini.




Evaluasi Taktik Diakhir Pertandingan

Setelah pertandingan ini berakhir, saya melakukan evaluasi di akhir pertandingan yang dapat anda saksikan melalui beberapa gambar di bawah ini.


Statistik Pertandingan
Dari gambar di atas dapat kita lihat bagaimana Arsenal memenangkan penguasaan bola 61% dengan tingkat keberhasilan pasing diatas 80%. Namun yang cukup mendapatkan perhatian serius adalah jumlah tembakan yang dilakukan Arsenal pada pertandingan kali ini. Dari 38 kali percobaan, hanya 15 tembakan yang terarah ke gawang (3 diantaranya berhasil menjadi gol). Jumlah ini memang masih sedikit dari perkiraan saya yang sebelum pertandingan telah memprediksikan akan tercipta minimal 50 tembakan dalam pertandingan ini mengingat saya mengaktifkan instruksi shoot more often kepada dua gelandang saya. Namun presing ketat yang dilakukan oleh West Ham membuat kedua gelandang tengah jarang memiliki kesempatan dan ruang tembak yang baik. Kesempatan menembak yang baik lebih banyak diperoleh oleh kedua inside forward saya, namun sayangnya tak pernah bisa dimaksimalkan menjadi gol.



Dari gambar di atas, ada 3 pemain yang harus mendapatkan perhatian serius karena memiliki tingkat keakuratan umpan dibawah dari 80%. Kondisi ini harus segera diperbaiki demi terciptanya strategi yang lebih baik.



Oliver Giroud menjadi Man of The Match pada pertandingan ini. Dan Alex Chamberlain sepertinya perlu mendapatkan perhatian agar dapat bermain sesuai harapan.





Cukup sampai disini tulisan saya, semoga bermanfaat.

 
Sebagai tambahan saja, setelah ini saya akan menghadapi suatu pertandingan big match dengan Manchester United. Penasaran akan cerita saya mengenai pertandingan tersebut? Sampai ketemu dicerita saya selanjutnya. Trims telah sudi mampir di blog saya yang sederhana ini.



Akhir kata dari saya, SALAM FM.

0 komentar:

Proudly Powered by Blogger.